2021 : PERANCANGAN TIPOGRAFI MENGADAPTASI ARE’ LANCOR SEBAGAI MEDIA REKOGNISI IDENTITAS KULTURAL KABUPATEN PAMEKASAN, MADURA

Naufan Noordyanto S.Sn., M.Sn

Year

2021

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Pamekasan, salah satu kabupaten di Madura, Jawa Timur, memiliki ragam warisan budaya. Salah satu di antaranya adalah artefak kebudayaan berupa senjata tradisional are’ lancor (baca: arek lancor: celurit lancor). Are’ lancor merupakan celurit yang bentuknya menyerupai kujang (senjata tradisional Sunda), namun ukurannya relatif lebih besar, dengan pegangan memanjang (sekitar 50-100 cm), menyerupai tombak. Bagi masyarakat Pamekasan, are’ lancor dinilai sebagai simbol kebanggaan yang dimengerti melalui sejarah, legenda atau cerita rakyat. Selain itu, sejarawan Pamekasan menyepakati bahwa bentuk are’ lancor diperkirakan menyerupai bentuk senjata pusaka Kiai Jaka Piturun milik pendiri Pamekasan, Raja Ronggosukawati (naik tahta 1530). Karena statusnya yang penting, celurit ini diadaptasi menjadi landmark yang dibangun dalam wujud monumen dengan susunan lima are’ lancor berbagai ukuran (tinggi) yang berlokasi di tengah-tengah kota Pamekasan, dan dikenal dengan sebutan monumen Are’ Lancor. Monumen ini didirikan untuk memperingati perjuangan dan perlawanan masyarakat Pamekasan yang saat itu menggunakan senjata are’ lancor dalam serangan umum 16 Agustus 1947 melawan serdadu Belanda. Selain itu, logo pariwisata Pamekasan yang dirilis pada 2017 juga mengadaptasi monumen are’ lancor sebagai picturemark. Namun, dari hasil penelitian awal, diketahui masyarakat luar Pamekasan, atau luar Madura khususnya, kurang mengetahui (unawareness) tentang eksistensi senjata tradisional are’ lancor sebagai artefak kultural dari Pamekasan. Ditambah adanya stigma kekerasan yang masih menempel pada masyarakat Madura umumnya membuat masyarakat luar daerah hanya mengetahui bahwa bentuk celurit Madura hanya berjenis bulu ajam (baca: buluh ajem: bulu ayam) sebagaimana yang umum dikenal sekaligus mengaburkan fungsi simbolis celurit, khususnya are’ lancor, sebagai warisan budaya yang luhur. Hal ini berpengaruh pada rendahnya audiens atau pasar mengenal dan mengingat Pamekasan dan identitas kebudayaannya. Berpijak dari permasalahan tersebut, dalam rangka mengenalkan are’ lancor sebagai identitas budaya Pamekasan, dilakukan upaya untuk menjadikan are’ lancor khususnya, maupun entitas Pamekasan umumnya, menjadi akrab di keseharian dalam medium yang berbeda. Maka dipilihlah pendekatan melalui eksplorasi tipografi dengan merancang dan menciptakan typeface (atau lebih dikenal font) memuat unsur budaya lokal yang diangkat dari karakter visual are’ lancor. Perancangan typeface penting ditawarkan sebagai solusi permasalahan di atas karena: (1) dapat menjadi indeks yang bisa membantu khalayak untuk melakukan penelusuran, pelacakan terhadap entitas atau kode budaya yang diusung pada typeface yang dirancang; dan (2) erat dan dekat dengan masyarakat serta aplikatif-implementatif dapat dibagi-pakai untuk kebutuhan apapun pada media apapun dan oleh masayrakat Pamekasan maupun masyarakat luas yang relevan dengan tujuan penelitian ITS yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Luaran penelitian ini adalah seperangkat alfabet digital jenis display; type speciment; media promosi, seperti poster promosi typeface dan lembar waterfall. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perancangan Brown (2009) serta Ambrose dan Harris (2010) untuk merancang typeface, yaitu (1) tahap empati (berdasarkan Brown (2009)) atau riset (berdasarkan Ambrose dan Harris (2010)); (2) tahap define; (3) tahap ideasi; (4) tahap prototype; dan tahap tes (berdasarkan Brown (2009)) atau implementasi (berdasarkan Ambrose dan Harris (2010)). Penelitian ini menguatkan peran ITS sebagai perguruan tinggi bereputasi dan berwawasan lingkungan yang berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-11, yaitu kota dan pemukiman/komunitas yang berkelanjutan, khususnya mempromosikan dan menjaga warisan budaya dunia.