2017 : KAJIAN PERUBAHAN SPASIAL WILAYAH PERI URBAN SURABAYA SEBAGAI UPAYA PENYIAPAN KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR

Arwi Yudhi Koswara ST., M.T.
Belinda Ulfa Aulia ST., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kawasan perkotaan salah satunya dipicu oleh proses urbanisasi. Dampak dari urbanisasi memberikan efek yang signifikan terhadap perluasan wilayah perkotaan hingga ke wilayah pinggiran kota (urban fringe). Peristiwa pelebaran kegiatan-kegiatan perkotaan ke wilayah pinggiran disebut urban sprawl. Wilayah yang menjadi hasil dari peristiwa urban sprawl ini disebut wilayah peri urban, dimana wilayah ini terletak di antara wilayah yang mempunyai kenampakan kekotaan di satu sisi dan wilayah yang mempunyai kenampakan kedesaan di sisi yang lain. Yang seringkali menjadi isue permasalahan pembangunan pada wilayah peri urban adalah isue terkait kesiapan infrastruktur. Wilayah peri urban cenderung mengalami pembangunan infrastruktur yang incremental akibat dari sebuah perencanaan yang mengikuti perkembangan pembangunan. Hal ini menimbulkan inefisiensi pembiayaan infrastruktur pada kawasan peri urban.\nBerdasarkan RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2012-2031, telah ditetapkan sistem perkotaan Surabaya Metropolitan Area (SMA) sebagai bagian dari metropolitan Gerbangkertosusila dan Malang Raya. Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo merupakan wilayah yang terkena dampak dari perkembangan Surabaya Metropolitan Area baik dari segi fisik, ekonomi, maupun sosial. Kecamatan Driyorejo, Kecamatan Menganti, dan Kecamatan Cerme di Kabupaten Gresik merupakan wilayah peri urban Surabaya yang memiliki kenampakan kekotaan di satu sisi dan wilayah yang mempunyai kenampakan kedesaan di sisi yang lain. Sedangkan, perubahan yang sama juga terjadi di Kabupaten Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya yaitu Kecamatan Taman. Penyebab dari munculnya fenomena periurbanisasi ini berkaitan erat dengan proses urban sprawl yang terjadi pada kawasan kota inti (core) yaitu Surabaya. Fenomena urban sprawl terjadi akibat dari kapasitas pusat perkotaan yang sudah melampaui batas daya tampungnya, sehingga melebar ke daerah pinggiran (periphery). Adanya perkembangan ini menyebabkan kebutuhan infrastruktur pendukung aktivitas permukiman meningkat. Pada wilayah peri urban kompleksitas permasalahan pelayanan kebutuhan infrastruktur cenderung muncul sebagai cerminan tidak selarasnya kecepatan perubahan fisik dan perencanaan kawasan. Hal ini dapat terjadi karena fenomena urban sprawl berjalan sangat dinamis dan tanpa terprediksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memprediksi perubahan spasial guna lahan di wilayah peri urban Surabaya dilihat dari hubungan keterkaitan aktivitas core-periphery sebagai upaya penyiapan kebutuhan infrastruktur. \nUntuk mencapai tujuan tersebut, maka disusun sasaran penelitian yaitu, 1) Mengidentifikasi karaksteristik wilayah peri urban Gresik dan Sidoarjo berdasarkan aspek fisik, ekonomi, dan sosial; 2) Menganalisis hubungan keterkaitan wilayah peri urban dengan wilayah urban dan rural di Kabupaten Gresik dan Sidoarjo dilihat dari keterkaitan fisik, ekonomi, dan penyediaan pelayanan dengan metode sistem dinamik; 3) Mengidentifikasi pola peri urban dari hasil pengamatan citra satelit pada rentang waktu yang bervariasi; 4) Memprediksi perubahan kawasan peri urban Surabaya ditinjau dari hubungan keterkaitan kawasan core periphery dan hasil pengamatan citra dengan metode cellular automata. Output dari penelitian ini berupa prediksi perubahan spasial guna lahan di wilayah peri urban Surabaya ditinjau dari hubungan keterkaitan kawasan core periphery. Outcome dari penelitian ini bermanfaat bagi pemerintah sebagai dasar untuk menyusun kebijakan sektoral terkait perencanaan infrastruktur di kawasan peri urban sehingga dapat mengefisienkan pembiayaan pembangunan infrastruktur.\n\nKata Kunci: Peri Urban, Guna Lahan, Infrastruktur, Modelling