2014 : Pengaruh Usia Stabilisasi pada Tanah Gambut Berserat yang Distabilisasi dengan Campuran CaCO3 dan Pozolan

Prof.Ir. Noor Endah M.Sc Ph.D


Abstract

Tanah gambut dikenal sebagai tanah yang sangat lunak dengan kandungan organik tinggi (≥ 75%). Tanah gambut memiliki perilaku yang kurang menguntungkan, yaitu daya dukung yang rendah dan pemampatan yang besar. Metode perbaikan tanah, seperti: preloading dengan beban tambahan, kolom pasir, dan galar kayu telah dilakukan untuk meningkatkan perilakunya. Hanya saja, metode tersebut tidak ramah lingkungan karena menggunakan banyak tanah dan kayu. Karena itu, metode stabilisasi menggunakan kapur telah dikembangkan untuk meningkatkan perilaku gambut. Makalah ini menyajikan efektivitas penggunaan abu sekam padi (RHA) dan Fly Ash (FA) sebagai pozolon untuk dicampurkan dengan CaCO3 sebagai bahan stabilisasi dan pengaruh Usia stabilisasi terhadap perilaku tanah gambut yang distabilisasi. Dalam studi ini, digunakan 10% Admixture-1 (30% CaCO3+ 70% RHA) dan 10% Admixture-2 (30% CaCO3+ 70% FA). Pada usia stabilisasi 20-45 hari, perilaku tanah gambut yang distabilisasi meningkat secara signifikan. Pada usia peram diatas 45 hari perilaku gambut yang distabilisasi menurun karena adanya perubahan jelly CaSiO3 menjadi kristal dan terjadinya dekomposisi serat gambut. Meskipun dua jenis admixture tersebut memberikan hasil yang baik dalam meningkatkan perilaku gambut berserat, tetapi Admixture-2 menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan karena ukuran butirannya yang lebih halus dan kemudahannya dalam pelaksanaan pencampuran.Abstract. Peat soil is known as a very soft soil with high organic content (≥ 75%). It has unfavorable behaviour, that is, low bearing capacity and …