2016 : SKENARIO MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA PADA SEKTOR TRANSPORTASI DI KOTA SURABAYA MELALUI PENDEKATAN COMPACT CITY

Dr. Ir. Eko Budi Santoso Lic.rer.reg.
Ketut Dewi Martha Erli Handayeni ST., MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Isu pemanasan global merupakan salah satu isu yang sedang hangat dibicarakan di seluruh negara di dunia, termasuk di Indonesia. Pemanasan global merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Peningkatan konsentrasi gas-gas tersebut erat kaitannya dengan aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya emisi (pelepasan) gas-gas rumah kaca ke udara. Kegiatan manusia pada sektor transportasi merupakan sumber utama emisi GRK di Indonesia. Produksi emisi GRK pada sektor transportasi di Indonesia diprediksi semakin meningkat hingga mencapai 180 juta ton pada tahun 2030. Hal ini bersumber dari penggunaan kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin meningkat pula.\n\nKota Surabaya sebagai kota terbesar di Jawa Timur menunjukkan tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang cukup tinggi hingga mencapai 5% per tahun. Disamping itu, sektor transportasi menyumbang 5,48 juta ton per tahun emisi karbon atau sekitar 96% dari total emisi udara di Kota Surabaya. Sementara, dalam Rencana Aksi Daerah (RAD) Jawa Timur menetapkan target penurunan emisi sebesar 5,22% atau setara dengan 6,2 juta ton CO2 eq pada tahun 2020 di bidang energi dan transportasi. Oleh karena itu diperlukan strategi penurunan emisi gas rumah kaca, salah satunya melalui strategi penataan guna lahan yang dapat mengurangi jarak perjalanan yang tidak perlu (trip demand management). \nPola penggunaan lahan merupakan representasi dari pola ruang kota yang dapat mempengaruhi dekat jauhnya jarak perjalanan. Pola ruang Kota Surabaya masih menunjukkan gejala pembangunan kota yang acak (sprawl), sehingga banyak ditemukan pola perjalanan dengan jarak yang panjang dari pinggiran kota (sub-urban) menuju pusat kota dengan menggunakan kendaraan bermotor. Hal ini dapat berdampak pada tingginya konsumsi energi dan produksi emisi karbon pada sektor transportasi. Pola ruang yang kompak (compact city) dipandang sebagai alternatif utama yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan bermotor. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Handayeni (2014) juga menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara pola kekompakan ruang dengan tingkat emisi gas rumah kaca pada sektor transportasi di Kota Surabaya . Wilayah dengan kekompakan ruang yang rendah menunjukkan pola perjalanan yang panjang dan motorisasi tinggi, sehingga penggunaan energi semakin besar dan emisi karbon semakin besar pula. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana skenario mitigasi emisi gas rumah kaca pada sektor transportasi dapat ditentukan melalui pengembangan ruang kota yang kompak di Kota Surabaya. \n\nPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan skenario kekompakan ruang kota (urban compactness) untuk dapat menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca, khususnya pada sektor transportasi di Kota Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif sehingga metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi linier berganda (multiple linear regression). Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penentuan kebijakan dalam upaya mitigasi karbon pada sektor transportasi di Kota Surabaya, mengingat Kota Surabaya dijadikan proyek percontohan mengenai Low Carbon City. Disamping itu, hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah keilmuan perencanaan kota dalam kaitannya dengan upaya mitigasi karbon, mengingat langkanya penelitian yang mengaitkan pola ruang kota dengan emisi gas rumah kaca di Indonesia.\n\nKata kunci: urban compactness, mitigasi GRK, transportasi