2018 : ARAHAN PENGEMBANGAN HUNIAN MELALUI PEMETAAN LAHAN TERBANGUN DAN NON TERBANGUN PADA KAWASAN PERMUKIMAN (PERUMAHAN PENGEMBANG) DAN LAHAN KOSONG BERDASARKAN KONSEP KERUANGAN DI KAWASAN SURABAYA TIMUR

Surya Hadi Kusuma S.T., M.T.
Mochamad Yusuf S.T., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Surabaya dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari angka pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun 2016 ke tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 73.125 jiwa, menjadi 3.016.653 jiwa, dengan angka pertumbuhan rata2 mencapai 3% pertahunnya. Peningkatan jumlah penduduk ini belum ditambah dengan jumlah pendatang yang belum tercatat. Mengingat Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Kota Jakarta yang memilliki faktor daya tarik ekonomi yang cukup besar dan tinggi, sehingga menarik perpindahan penduduk dari luar Kota Surabaya untuk masuk dan menetap di Kota Surabaya. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dan pasal 28 H Amandemen UUD 1945, bahwa rumah adalah salah satu hak dasar rakyat dan oleh karena itu, setiap warga negara berhak untuk bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat. Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembina keluarga yang mendukung perikehidupan dan penghidupan juga mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, dan penyiapan generasi muda. Oleh karena itu, pengembangan perumahan yang layak dan sehat merupakan langkah awal untuk peningkatan dan pengembangan kualitas sumberdaya manusia kedepannya. Pengembangan hunian perumahan tidak hanya dipandang terbatas pada penyediaan jumlah unit yang harus disediakan oleh pemerintah daerah, tetapi bagaimana perencanaan dan penyediaan hunian tersebut dapat mampu dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (penduduk) yang berada atau berkegiatan pada kawasan tersebut. Dalam pelaksanaannya, pengembangan hunian perumahan di Kota Surabaya terkendala akan ketersediaan lahan yang semakin terbatas atau berkurang. Akibatnya adalah harga lahan semakin tinggi dan tidak semua lapisan masyarakat dapat mencapainya. Untuk melihat ketersediaan lahan di Kota Surabaya, khususnya pada kawasan Surabaya Timur, perlu dilakukan pemetaan lahan terbangun dan non terbangun, khususnya yang diperuntukan bagi kawasan permukiman (hunian perumahan). Dari pemetaan ini nantinya akan terlihat, apakah sudah sesuai arahan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah Kota Surabaya, dan seperti apa arahan penanganannya. Kata Kunci: Arahan Pengembangan Hunian, Pemetaan, Perumahan Pengembang, Sistem Informasi Geografis.