2015 : Pengembangan Sistem Penerjemah Otomatis Bahasa Isyarat untuk Penderita Tuna Rungu

Dr.Eng. Nanik Suciati S.Kom., M.Kom.
Wijayanti Nurul Khotimah S.Kom., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Multi Center Study, Indonesia merupakan negara yang jumlah penderita tuna rungunya berada diurutan ke empat di Asia Tenggara. Berarti jumlah penderita tuna rungu di Indonesia tidaklah sedikit. Biasanya orang yang menderita tuna rungu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Hal ini mengakibatkan mereka seakan tersisih dalam berkehidupan bermasyarakat karena adanya problem komunikasi.\n\nSalah satu cara yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk menjembatani komunikasi antara penderita tuna rungu dan masyarakat adalah dengan membuat bahasa isyarat yang kemudian bahasa isyarat tersebut di bukukan dalam sebuah kamus bahasa isyarat yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). Namun penggunaan SIBI ini kurang optimal. Hanya orang-orang tertentu (penerjemah) yang mengenal SIBI sehingga ketika seseorang ingin berkomunikasi dengan penderita tuna rungu mereka harus berkomunikasi melalui perantara penerjemah bahasa isyarat yang jumlahnya terbatas. \n\nDi sisi lain,