2016 : Pemanenan Air Hujan Sebagai Upaya Pengurangan Biaya Pemakaian Air Bersih Dalam Rangka Mendukung Eco Campus ITS

Prof. Dr. Ir. Nieke Karnaningroem Dipl.SE, M.Sc
Ir. Atiek Moesriati M.Kes.
Ir. Mas Agus Mardyanto M.E., Ph.D
Irvansyah S.T.,M.T.


Abstract

Ketersediaan air bersih di Kota Surabaya masih belum sepenuhnya teratasi. Ketersediaan air bersih bukan hanya terkait kuantitas, namun juga kualitas airnya. Permasalahan tersebut diantaranya karena jaringan pipa air yang sudah tua sehingga rawan terjadi kebocoran. Selain itu, air baku air minum PDAM Surabaya sebagian besar berasal dari Kali Surabaya yang rawan pencemaran, baik berasal dari limbah domestik maupun limbah industri (Priyono dkk, 2013). Sumber air baku lainnya adalah dari beberapa mata air di wilayah Pasuruan dan Pandaan. Pada saat ini (data tahun 2012), cakupan pelayanan PDAM Surabaya adalah 87,87% dan pada tahun 2019 diharapkan/ direncanakan mampu mencapai 100%. Namun demikian dengan terbatasnya sumber air baku baik kuantitas maupun kualitas airnya, maka diperlukan suatu alternatif sumber air baku, selain dari air Kali Surabaya. Pemilihan/ pencarian alternatif air baku tersebut bisa dilakukan oleh PDAM sendiri atu oleh konsumen baik perorangan maupun organisasi.\nSalah satu teknologi yang sudah banyak digunakan di beberapa daerah di Indonesia yang rawan air (Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dll), maupun di beberapa negara adalah pemanenan air hujan (PAH) atau yang biasa disebut rainwater harvesting. PAH ini merupakan salah satu dari pemanfaatan air hujan seperti yang dijelaskan dalam PERMEN LH No. 12 Tahun 2009 pasal 1 ayat 1 bahwa pemanfaatan air hujan adalah serangkaian kegiatan mengumpulkan, menggunakan, dan/atau meresapkan air hujan ke dalam tanah. PAH ini cocok diterapkan di semua daerah baik yang curah hujannya tinggi bahkan pada daerah dengan curah hujan rendah.Potensi air hujan di Kota Surabaya tinggi, yaitu sekitar 1700 mm s.d 2500 mm per tahun.\nKampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), merupakan kampus dengan jumlah penghuni (dosen, karyawa, mahasiswa) yang sangat banyak. Jumlah total penghuni ITS lebih dari 20.000 orang. Semua penghuni tersebut memerlukan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Pada umumnya, di kampus, dosen, karyawan, dan mahasiswa menggunakan air untuk kegiatan di kamar mandi, berwudhu. Sebagian air bahkan digunakan untuk menyiram tanaman. Salah Satu pengeluaran air yang besar di ITS adalah di Asrama Mahasiswa. Pemakaian air di asrama rata-rata sebesar 4800 m3 per bulan. Dengan tarif Rp 7.500,00 per m3(PDAM, 2012), maka anggaran yang harus dikeluarkan oleh ITS setiap bulannya adalah sekitar Rp 36.000.000,00. Tak heran jika ITS harus membayar sekitar Rp. 2.000.000.000,00 per tahun untuk pemakaian air bersih di seluruh bangunan.\nDalam rangka mendukung program Eco—campus, ITS perlu mencari alternatif sumber air bersih yang memenuhi syarat kuantitas maupun kualitas, yang ramah/ berwawasan lingkungan untuk menunjang aktivitasnya. Salah satu alternatif tersebut adalah sistem PAH (rainwater harvesting). Dalam sistem ini, selama musim penghujan, setiap kali hujan turun, air hujan akan ditangkap oleh atap bangunan dan kemudian air dialirkan manuju reservoir untuk kemudian dipergunakan langsung. Dengan demikian, diharapkan, selama musim penghujan, setidaknya akan terjadi pengurangan jumlah air yang berasal dari PDAM sehingga pembayaran pemakaian air PDAM akan berkurang. Dalam proposal ini diusulkan studi sistem PAH (rainwater harvesting) dan sistem distribusinya. Air hujan yang tertampung dapat digunakan untuk penggelontoran water closet (wc), menyiram tanaman, mencuci, menjaga kebersihan ruangan, dan dapur.