2018 : ASPEK GEOKIMIA ORGANIK UNTUK KONVERSI BATUBARA PADAT MENJADI BATUBARA CAIR

Prof. Dr. R.Y. Perry Burhan M.Sc.
Dra. Yulfi Zetra M.Sc
Zjahra Vianita Nugraheni S.Si, M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Salah satu konsumsi terbesar batubara dalam negeri adalah dalam sektor industri pembangkit listrik (PLN). Kebutuhan batubara untuk sektor tersebut dalam jangka panjang diperkirakan meningkat 5% per tahun dari tahun 2014 hingga tahun 2040. Peningkatan pemanfaatan batubara sebagai sumber energi jangka panjang tentulah sangat didasari atas kelimpahan sumber daya dan cadangan batubara Nasional yang masih sangat besar jumlahnya, dimana menurut data dari kementerian ESDM tahun 2016, jumlah cadangan batubara Nasional masih sangat besar, mencapai 32,27 miliar ton. Cadangan batubara di Indonesia tersebar cukup luas di berbagai wilayah yang meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Jawa dan Maluku. Batubara peringkat sedang hingga tinggi sudah dimanfaatkan selama ini untuk keperluan ekspor dan berbagai kebutuhan sektor industri dalam negeri, sedangkan batubara peringkat rendah (batubara coklat) belum lagi dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu, batubara peringkat rendah ini harus dimanfaatkan secara optimal, salah satunya melalui konversi batubara padat menjadi batubara cair (coal to liquid). Pemerintah dalam Outlook Energi tahun 2016 akan mengalokasikan 4,5 juta ton/tahun batubara untuk keperluan konversi batubara menjadi bahan bakar cair yang baru akan terealisasi pada tahun 2040 (Sugiyono et al., 2016). Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam proses pencairan batubara tersebut, maka perlu pengkajian yang mendalam tentang klasifikasi batubara yang dapat dicairkan. Salah satu upaya tersebut adalah melalui kajian batubara secara molekuler, yakni melalui analisis biomarka. Identifikasi terhadap biomarka sangat berguna untuk mengetahui keterkaitan antara batuan sumber dengan asal-usul atau sumber dari bahan organik dan kondisi lingkungan pengendapan sedimen (Rontani et al., 2011). Selain itu, distribusi senyawa biomarka juga dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kematangan (maturity) dari sampel geologi (Izart et al., 2012) dan biomarka sebagai indikator bahan organik yang terdapat dalam batubara (Fabianska and Kurkiewicz, 2013). Dengan demikian kualitas dan kelayakan suatu batubara yang akan dicairkan dapat ditentukan. Identifikasi biomarka batubara ini dilakukan menggunakan metode gabungan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM).