2011 : Produksi bioetanol dari eceng gondok (Eichhornia crassipes) dengan Zymomonas mobilis dan Saccharomyces cerevisiae

Prof. Dr. Yulinah Trihadiningrum M.App.Sc


Abstract

Pertumbuhan industri dan peningkatan jumlah penduduk berdampak pada peningkatan kebutuhan energi serta peningkatan pencemaran air. Eceng gondok merupakan salah satu gulma yang banyak dijumpai di perairan yang mengalami eutrofikasi. Pada umumnya eceng gondok yang tumbuh di badan air dibuang atau dibakar. Padahal biomassa tersebut berpotensi sebagai bahan baku untuk pembuatan bioenergi, seperti bioetanol. Pembuatan bioetanol dilakukan melalui tahap pretreatment, likuifikasi, sakarifikasi serta fermentasi. Pada pembuatan bioetanol ini dilakukan variasi:(1) metode pretreatment dengan asam sulfat 2%(v/v) dan pemanasan pada suhu 121 0C selama 30 menit,(2) seeding ratio jamur Aspergillus niger dengan perbandingan 4/40 (v/v) dan 8/40 (v/v) pada proses likuifikasi,(3) penggunaan Saccharomyces cerevisiae pada tahap sakarifikasi dan (4) penggunaan Zymomonas mobilis dan Saccharomyces cerevisiae pada proses fermentasi. Kadar glukosa tertinggi sebesar 8414, 7287 mg/L. Kadar glukosa tertinggi ini dihasilkan dari proses pretreatment dengan asam sulfat 2%(v/v) kemudian dilikuifikasi dengan A. niger 8/40 (v/v) dan tanpa sakarifikasi dengan S. cerevisiae. Kadar etanol tertinggi sebesar 0, 27%. Hasil ini diperoleh dari proses pretreatment dengan pemanasan, kemudian dilakukan likuifikasi dengan A. niger 4/40 (v/v) tanpa dilakukan sakarifikasi dan difermentasi dengan S. cerevisiae selama tiga hari.