2020 : PRODUKSI SELULOSA MIKROKRISTALIN SEBAGAI ADITIF PANGAN DAN FARMASI DIBUAT DARI LIMBAH SERBUK KAYU JATI MELALUI PROSES HIDROTERMAL DENGAN PENAMBAHAN CO-SOLVENT

Dr. Ir. Sumarno M.Eng.
Prida Novarita Trisanti S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Kayu jati adalah salah satu jenis kayu keras yang banyak digunakan dalam pembuatan perabotan rumah tangga. Karena tingginya penggunaan, maka menghasilkan limbah kayu berupa serpihan kayu, serbuk gergajian dan lainnya. Limbah ini masih memiliki kandungan lignoselulosa yang cukup tinggi, terutama komposisi selulosanya yang mencapai >50%. Oleh karena itu, kandungan selulosa tersebut dapat dimanfaatkan menjadi material yang bernilai cukup tinggi, antara lain adalah selulosa mikrokristalin (MCC). MCC merupakan material yang banyak digunakan dalam dunia farmasi, salah satunya sebagai bahan enkapulasi obat, capsule diluents, dan lain sebagainya. Pembuatan MCC umumnya melalui dua tahapan, yaitu proses delignifikasi dan proses hidrolisa. Proses delignifikasi dilakukan untuk menghilangkan kandungan lignin dan hemiselulosa yang ada pada kayu. Sedangkan proses hidrolisa dilakukan dengan tujuan untuk mengecilkan ukuran dari serat selulosa dengan menghilangkan zona amorf dari selulosa itu sendiri. Kedua proses tersebut sangat banyak mengonsumsi bahan kimia (asam dan basa) untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena pada penelitian ini, akan dikembangkan proses yang lebih ramah lingkungan yakni dengan menggunakan metode hidrotermal. Metode hidrotermal merupakan alternatif proses hidrolisa baik lignin, hemiselulosa dan juga selulosa dengan menggunakan air pada kondisi sub/superkritis. Namun karena proses hidrolisa tersebut hanya pada kondisi tertentu, maka perlu ditambahkan co-solvent agar proses hidrolisa tersebut dapat ditingkatkan. Oleh karena itu tujuan dari penelitian adalah mempelajari pengaruh penambahan co-solvent dan waktu hidrotermal terhadap MCC yang dihasilkan. Proses hidrotermal diawali dengan mencampur serbuk kayu jati dan larutan asam asetat (1%) dengan perbandingan 1/100 (w/v). Kemudian proses hidrolisa dilakukan pada tekanan 100 bar, suhu 150- 200C, serta berbagai waktu hidrotermal. Setelah proses hidrotermal selesai dilakukan, produk disaring untuk mengambil produk padatan. Produk tersebut dikeringkan dengan menggunakan freeze drying. Hasil proses hidrotermal dianalisa menggunakan analisa Chesson, SEM, XRD dan FTIR.