2020 : ANALISA DAMPAK AKRESI DAN ABRASI PANTAI TERHADAP ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR PANTAI KOTA SURABAYA - GRESIK

Cherie Bhekti Pribadi S.T., M.T.

Year

2020

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Kawasan pesisir memiliki nilai strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya, sehingga berpotensi menjadi prime mover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukkan bahwa kawasan pesisir telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografisnya. Akan tetapi, pesisir merupakan kawasan yang perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini disebabkan kawasan pesisir memiiki karakteristik - karakteristik khusus yang terdiri dari karakteristik daratan yang terdapat pada subsistem daratan pesisir (shore line) dan karakteristik perairan yang terdapat pada subsistem periran pesisir (coastal line). Adanya interaksi keduanya menyebabkan kawasan pesisir memiiki kendala alam yang tidak ditemui pada ekosistem daratan lainnya. Kawasan pesisir dan laut memiliki potensi sumber daya hayati dan nonhayati yang penting bagi kehidupan manusia. Segala potensi yang dimiliki ini perlu dilestarikan dan dikelola secara terpadu sehingga dapat dimanfaatkan secara lestari dan berkelanjutan. Pun sebagai kawasan yang strategis, pesisir menjadi lahan sentra aktivitas penduduk. Beberapa kecamatan di Surabaya yang tergolong kecamatan pesisir adalah Kecamatan Gunung Anyar, Rungkut, Mulyorejo, Sukolilo, Bulak, Kenjeran, Pabean Cantikan, Semampir, Krembangan, Asemrowo, dan Benowo. Kecamatan-kecamatan tersebut memiliki resiko terkena bencana banjir akibat kenaikan muka air laut (Marfai,dkk, 2016). Lingkungan pantai merupakan wilayah yang selalu mengalami perubahan, karena menjadi tempat bertemunya dua faktor yang berasal dari daratan dan dari lautan, garis pertemuan antara daratan dan lautan inilah yang disebut dengan garis pantai (Istiono 2011). Perubahan lingkungan pantai diakibatkan oleh gerakan angin yang membangkitkan gerombang sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai (Tawas dan Pingkan 2016). Aktivitas seperti penebangan hutan mangrove, penambangan pasir, serta fenomena tingginya gelombang, dan pasang surut air laut menimbulkan dampak terjadinya abrasi atau erosi pantai (Wahyuningsih dkk, 2016) Metode penginderaan jauh dengan citra satelit dapat menjadi solusi untuk melakukan penelitian masalah terjadinya akresi dan abrasi di kawasan pesisir dan laut, serta menggunakan metode sistem informasi geografis dengan data Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) karena metode ini lebih efisien dan efektif dalam penelitian berskala luas. Beberapa citra satelit multi temporal yang dapat digunakan dari tahun 2004 hingga 2019 untuk meneliti masalah, memiliki resolusi spasial yang baik dan multitemporal. Hasil akhir yang akan diharapkan untuk memberikan informasi terkait dampak perubahan akresi dan abrasi pantai yang berpengaruh pada arahan pengembangan kawasan pesisir kota Surabaya. Kata kunci : Kawasan Pesisir, Garis Pantai, Penginderaan Jauh, Akresi, Abrasi