2021 : PENGEMBANGAN SISTEM MONITORING 12 CHANNEL WIRELESS ECG UNTUK PENDETEKSI GANGGUAN NEUROLOGY DAN PENYAKIT JANTUNG DALAM MASA PANDEMI COVID-19

Dr. Dhany Arifianto ST.,M.Eng.
Arief Kurniawan ST., MT

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di dunia menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO, 2017). Deteksi sejak dini dibutuhkan untuk menekan risiko akibat penyakit ini. Salah satu caranya dengan elektrokardiogram (ECG) untuk mengetahui kondisi Kesehatan jantung. Selain itu, berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan melakukan perekaman detak jantung secara periodik dan berdurasi panjang (holter) sangatah diperlukan. Akan tetapi, sejak diputuskannya COVID-19 sebagai pandemi dunia oleh World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020 (WHO, 2020), penyakit jantung merupakan penyakit penyerta yang dapat menyebabkan tingginya resiko kematian. Angka penderita COVID-19 Indonesia di Asia Tenggara sejak 11 April 2020 berada pada posisi ketiga dengan jumlah kematian sebesar 327 jiwa. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan besar pada ketahanan pelayanan kesehatan nasional Indonesia ditunjukkan dengan tingginya nilai laju kematian penyakit tersebut. Pada usulan ini, peneliti mengusulkan sistem monitoring 12 channel wireless ECG sebagai solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk tindakan pemetaan, pencegahan dan pengobatan untuk penyakit jantung dan gangguan neurologi sehingga dapat mendukung tercapainya SDGs (Sustainable Development Goals) serta menurunnya laju kematian (death rate). I-health diagnosys yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat mendeteksi gangguan neurologi dan penyakit jantung dengan sinyal ECG 12 channel. Sinyal ECG 12 channel yang didapat akan dikirimkan secara serial ke komputer server, kemudian data tersebut dapat diakses dan ditampilkan pada komputer yang terhubung dengan server tersebut. dan disimpan dalam suatu medical record sehingga dapat membantu dokter untuk mendiagnosis pasien. Sistem dirancang berbasis jaringan komputer agar bisa diakses dari jarak jauh. Untuk mengurangi jumlah penguat yang akan digunakan maka dirancang teknik multipleksing sehingga sinyal masukan dari tiap lead akan diambil secara bergantian. Dengan skema tersebut diharapkan jumlah penguat bisa direduksi dan dimensi perangkat akan bisa lebih kecil sehingga bisa mendukung mobilitas perangkat yang dirancang. Keperluan monitoring ECG di rumah sakit jumlah channel yang dibutuhkan paling sedikit adalah 1 channel. Pada penelitian ini, mengusulkan 12 channel sadapan agar didapatkan informasi secara lebih lengkap. Data ECG biasanya hanya bisa dilihat pada komputer yang terhubung dengan perangkat ECG tersebut, data sinyal ECG belum dapat diakses secara luas sehingga antara perangkat ECG dan perangkat monitoring harus berada dalam satu ruangan. Oleh karena itu, pada penelitian ini diusulan menggunakan 12 channel sadapan wireless agar memudahkan akses sinyal ECG dan dapat mendeteksi penyakit jantung dan gangguan neurologi secara akurat. Sistem monitoring yang dirancang memungkinkan setiap orang, terutama pasien untuk tinggal di rumah dan dan berkomunikasi dengan dokter melalui saluran virtual sehingga membantu mengurangi penyebaran virus ke populasi massal dan staf medis dari paparan COVID-19.