2020 : INFORMASI GEOSPASIAL BERBASIS 3D CITY MODEL MENGGUNAKAN DATA LIDAR DAN FOTO UDARA DENGAN METODE SEMI OTOMATIS (STUDI KASUS KOTA SURABAYA)

Hepi Hapsari Handayani ST.,M.Sc.,Ph.D
Husnul Hidayat S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Era Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan pembangunan, termasuk dalam bidang perencanaan. Perencanaan dalam skala yang lebih detail membutuhkan data yang lebih detail. Ketersediaan data yang lebih lengkap dibutuhkan untuk menjamin representasi kondisi fisik yang lebih nyata. Oleh karena itu, kebutuhan data berupa tiga dimensi (3D) adalah salah satu komponen yang vital di dalam perencanaan. Kebutuhan informasi geospasial (IG) 3D untuk wilayah kota sangatlah penting mengingat kota sebagai pusat kegiatan dengan jumlah bangunan dan infrastruktur yang banyak dan memiliki karakteristik data geospasial yang multi obyek, multi struktur dan bermacam jenis (heterogenitas). IG dalam 3D dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan terkait dengan keberlangsungan perencanaan, pembangunan dan operasional infrastruktur di wilayah kota. Kota Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur terus mengalami perkembangan dan pembangunan kota yang pesat sebagai pusat perdagangan dan jasa skala nasional dan internasional, dan penghubung wilayah Indonesia timur. Sehingga informasi geospasial (IG) 3D sangat diperlukan karena dapat memberikan informasi terkait dengan bangunan beseta infrastruktur yang sangat diperlukan bagi perencanaan kota ke depan. Dengan padatnya bangunan, maka IG berbasis 3D ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan penataan kota yang terencana. Sehingga data yang dihasilkan dapat digunakan dalam pembuatan informasi sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan seperti dalam ijin pendirian bangunan, perencanaan lingkungan yang nyaman maupun perencanaan untuk mitigasi bencana. Dalam membuat 3D city model tentu diperlukan data-data yang mendukung seperti data ketinggian, footprint bangunan, titik vegetasi, dan jaringan jalan. Data tersebut dapat diperoleh dari Light Detection and Ranging (LiDAR) dan foto udara. Data LiDAR efektif digunakan dalam menentukan tinggi bangunan, terutama pada bangunan gedung yang sangat tinggi yang tidak dapat diukur dengan alat ukur ketinggian karena keterbatasan pergerakan vertikal alat. Sementara itu foto udara dapat memberikan informasi terkait lokasi dan bentuk objek dalam resolusi sangat tinggi. Dari hasil pengolahan foto udara ini didapatkan hasil tutupan lahan yang sangat akurat serta bentuk bangunan dengan level of detail (LOD) yang tinggi. Penggunaan LiDAR dan foto udara dalam membuat model kota 3D dibutuhkan seiring dengan perkembangan infrastruktur kota dan kebutuhan peta skala besar. Adapun metode pemodelan 3D kota yang digunakan pada penelitian ini adalah semi automatis menggunakan perangkat lunak yang telah terbangun syntax, rule, maupun grammar-nya namun tetap memasukkan parameter-parameternya sendiri. Penerapan aturan semantik akan dilakukan pada penelitian ini menggunakan rule berbasis Computer Generated Architecture (CGA) yang berisi serangkaian definisi untuk menghasilkan model. Adapun parameter yang digunakan untuk mendefinisikan objek model adalah bentuk, lokasi spasial, parameter, dan elemen seperti jendela, pintu, ketinggian, ketinggian lantai, dan tekstur. Dalam penelitian ini didefinisikan lima objek yaitu perumahan (planned/row house), permukiman (unplanned house), gedung tinggi (high rise building), dan jalan beserta fiturnya. Perumahan merujuk pada rumah yang terdiri atas baris-baris serta teratur. Permukiman merujuk pada tempat tinggal penduduk di suatu kawasan yang kurang teratur dan tidak tertata. Jalan merupakan jaringan jalan secara umum sedangkan fitur jalan meliputi lampu jalan, trotoar, dan tempat penyeberangan. Dari kelima kelas tersebut akan dilakukan validasi dari segi LOD maupun volume untuk kemudian dianalisis berdasarkan hasil validasi maupun proses pembuatannya. Validasi dilakukan dengan mengambil data terestris berupa koordinat dan volume objek. Hasil dari validasi berupa nilai completeness (kelengkapan), correctness (kebenaran), quality (kualitas), dan standar deviasi volume tiap objek. Selanjutnya akan dilakukan analisis visibilitas. Dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan model kota 3D yang akurat bagi Kota Surabaya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk membangun informasi geospasial berbasis tiga dimensi (3D) city model menggunakan data LiDAR dan foto udara di Kota Surabaya pada kawasan yang memiliki perbedaan karakteristik. IG berbasis 3D model yang dihasilkan divalidasi berdasarkan akurasi volume dan LOD-nya. Tujuan kedua yaitu mengetahui pengaruh metode semi automatis pada penerapan roof rule yang berbeda-beda dalam membangun sebuah model kota 3D. Sedangkan tujuan yang ketiga yaitu mengetahui kondisi spasial lokasi studi berdasarkan analisis visibilitas tiga dimensi dan menganalisis dampak adanya gedung tinggi di wilayah tersebut. Kata kunci: informasi geospasial, 3D city model, LiDAR, foto udara, semi otomatis, Surabaya