2020 : Perencanaan Pengiriman Pasokan Bahan Bakar Liquid Natural Gas (LNG) untuk Pemenuhan Pembangkit Listrik di Wilayah Inonesia Timur

Dr.Eng. I Gusti Ngurah Sumanta Buana ST,M.Eng.
Achmad Mustakim S.T., M.T., MBA

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Salah satu penggerak kegiatan ekonomi suatu wilayah adalah adanya peran energi sebagai komponen primer yang akan selalu dibutuhkan, salah satunya adalah energi listrik. Telah diketahui bahwa kebutuhan listrik akan semakin meingkat setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan penduduk dan berkembangnya segala aktivitas manusia di masing-masing wilayah, termasuk wilayah Indonesia bagian Timur. Untuk saat sumber pembangkit listrik yang berbahan LNG akan di bangun di 51 titik. Hingga saat ini, sebagian besar pembangkit listrik yang digunakan masih bersumber pada energi minyak bumi, dimana telah diketahui bahwa jumlah sumberdaya minyak bumi adalah terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Hal ini menyebabkan timbulnya banyak persiapan alternatif pengganti minyak bumi seperti batu bara ataupun gas bumi. Gas bumi merupakan energi primer utama ketiga di Indonesia, setelah minyak dan batubara. Pada mulanya, gas alam tidak dikonsumsi sebagai sumber energi karena selalu mendapat kedala dalam proses pendistribusiannya, sehingga selalu dibakar ketika diproduksi bersamaan dengan minyak bumi. Total cadangan gas bumi pada tahun 2015 sebesar 150,39 TSCF, dimana cadangan terbukti berkisar 101,54 TSCF, sedangkan cadangan potensial berkisar 48,85 TSCF. Dibandingkan dengan tahun 2014, cadangan gas bumi nasional mengalami peningkatan berkisar 1,36 % atau sebanyak 2,03 TSCF. Selain cadangan yang cukup besar, produksi gas yang meningkat memberikan kontribusi terhadap posisi gas sebagai sumber energi yang kompetitif diantara sumber energi lainnya. Gas bumi tetap menjadi bahan bakar untuk sektor ketenagalistrikan, kilang, dan industri. Pada sektor ketenegalistrikan, gas bumi memberikan efisiensi yang tinggi pada pembangkit listrik, khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU). Penggunaan gas sebagai pembangkit listrik didukung dengan adanya Peraturan Menteri ESDM No.45/2017 tentang Pemanfaatan Gas Bumi untuk Pembangkit Listrik serta Keputusan Menteri ESDM Republik Indonesia Nomor 13 K/13/MEM/2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyedian Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur Liquified Natural Gas (LNG) Serta Konservasi Penggunaan Bahan Bakar Minyak dengan Liquified Natural Gas (LNG) dalam Penyediaan Tenaga Listrik. Maka diperlukan pola operasi dan penentuan jumlah kapal untuk pengiriman bahan bakar LNG ke beberapa titik yang akan di supply.