2020 : Kenyamanan Soundscape berdasarkan Perilaku Bekerja pada Perkantoran Tapak Terbuka (Open LayOut Office)

Dr Eng. Dipl Ing. Ir. Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi M.T.
Ir. I Gusti Ngurah Antaryama Ph.D.
Dr. Dhany Arifianto ST.,M.Eng.


Abstract

Dalam konteks perancangan lingkungan, peran persepsi terhadap lingkungan sangat penting, karena keputusan perancangan ditentukan oleh persepsi penghuni agar kualitas perancangan lingkungan yang terbaik dapat tercapai. Perkantoran tapak terbuka merupakan salah satu pilihan penataan ruang kerja paling populer dan disukai pemilik perusahaan saat ini. Hasil penelitian di negara-negara barat menunjukkan bahwa persepsi pendengar terhadap kenyamanan soundscape pada perkantoran tapak terbuka menjadi negatif, akibat berkurangnya privasi visual dan akustik serta tingkat suara yang tidak terkontrol, sehingga menyebabkan penurunan signifikan terhadap kenyamanan dan produktivitas kerja. Fenomena mengadopsi ruang kerja tapak terbuka juga melanda perkantoran di kota-kota besar di dunia termasuk di Indonesia. Padahal sebenarnya perilaku bekerja yang dipengaruhi pengalaman budaya individu dan efek sosial juga berpengaruh pada persepsi pendengar, sehingga persepsi pendengar terhadap kenyamanan soundscape pada perkantoran tapak terbuka di Indonesia akan diindikasikan berbeda daripada di negara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan terhadap persepsi pengguna pada perkantoran tapak terbuka menggunakan 2 (dua) lokasi studi kasus yaitu perkantoran tapak terbuka Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Universitas Kristen Petra di Surabaya. Adapun pemeriksaan akan dilakukan terhadap 3 (tiga) kategori ruang layanan yakni administrasi, keuangan, dan layanan publik untuk mendapatkan variabel gangguan visual yang terjadi dengan mengamati posisi ruang dalam layout, aspek batas kubikel dan jenis partisi, dan juga gangguan kebisingan yang terjadi akibat kedua hal tersebut beserta sumber kebisingannya. Penelitian ini menggunakan paradigma post-positivist dengan combined strategy karena dengan menggunakan mixed-methodology dan studi kasus diharapkan dapat lebih efektif untuk mengukur respon pendengar terhadap apa yang mereka dengar, yang dulunya mengukur hasil evaluasi orang terhadap ruang kerja menjadi mengevaluasi perilaku orang itu sendiri. Dalam proses penelitian ini, metode kuantitatif digunakan mengukur secara objektif kinerja lingkungan akustik yakni kondisi eksisting kenyamanan soundscape ruang kerja tapak terbuka, terutama dalam pengecekan kondisi background noise yang disebabkan variabel seperti (1) reverberation time; (2) sound isolation; (3) speech intelligibility; (4) speech privacy, dengan indikator (1) jarak antara workstation sebagai bagian dari desain tata letak workspace; (2) penggunaan material peredam akustik pada plafon dan dinding; (3) pemasangan sekat diantara workstation (letak dan ketinggian partisi); (4) penerapan sistem masking noise (noise perfume). Oleh karena metode kuantitatif merupakan studi yang diposisikan value free (tidak termasuk persepsi individu dan nilai-nilai pribadi), maka peneliti perlu melanjutkan dengan metode kualitatif. Hal ini terkait kebutuhan interpretive research (diperlukan interpretasi terhadap data persepsi pendengar dan perilaku bekerja yang ditemukan di lapangan) dengan melakukan wawancara indepth interviews melalui tahapan (1) pemetaan perilaku (melihat pola aktivitas individu) dan (2) pemetaan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, golongan/pangkat, tipe pekerjaan, dan masa kerja, sehingga dapat mengungkapkan keunikan yang terdapat dalam individu tentang kehidupannya sehari-hari. Kemudian dilanjutkan dengan pengisian kuesioner (skala Likert) untuk validasi dan mendukung argumentasi, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Luaran yang ditargetkan dari hasil pemetaan terhadap persepsi pengguna pada studi kasus perkantoran tapak terbuka tersebut berupa tingkat gangguan visual dan kebisingan yang mempengaruhi kesehatan (fisik dan psikis) dan produktifitas kerja serta korelasi antar keduanya.