2020 : STRATEGI KONSERVASI KAWASAN CAGAR BUDAYA PERMUKIMAN ETNIS: DARI LIVABILITY KE LOVABILITY

Wahyu Setyawan S.T., M.T.
Tanti Satriana Rosary Nasution S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Penanganan kawasan cagar budaya (KCB) merupakan proses yang dinamis dan selalu berkembang. Pengelolaan KCB sendiri telah bergerak jauh dari preservasi yang hanya memandang cagar budaya sebagai elemen statis hingga menuju konservasi suatu kawasan sebagai cagar budaya hidup (living heritage). Untuk itu, sebuah kawasan cagar budaya, terutama yang berupa kawasan hunian, perlu menjadi kawasan yang dikonservasi dengan pendekatan yang berpusat pada penghuninya. Salah satu strategi dalam pengembangan kawasan perkotaan yang layak huni adalah dengan strategi livability. Strategi ini digunakan di banyak belahan dunia untuk mengetahui bagaimana sebuah kota dapat menjadi kota yang layak dan nyaman melalui sejumlah Key Performance Indicators (KPI). Namun demikian, livability memiliki keterbatasan untuk memahami bagaimana sebuah kawasan dapat dipertahankan oleh masyarakat dan bagaimana sebuah kawasan tersebut memiliki keterikatan emosional dengan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Strategi lain yang mulai berkembang dalam beberpa tahun belakangan adalah melalui pendekatan lovability. Lovability menambahkan nilai yang telah ada pada livability dengan mengeksplorasi dan menentukan elemen-elemen yang dapat membentuk keterhubungan fundamental antara manusia dengan tempatan tertentu. Dengan lovability, sebuah kawasan cagar budaya diharapkan dapat memiliki keterikatan emosional dengan penghuninya. Kawasan cagar budaya di Kota Surabaya dapat dibaca dari kawasan-kawasan permukiman etnis yang berkembang di dalamnya sejak masa lalu. Masalah yang umumnya berkaitan dengan kawasan-kawasan ini adalah memudarnya keterikatan antara masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut dengan memori dan identitas yang dimiliki tempat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi konservasi yang mengintegrasikan livability dan lovability pada kawasan cagar budaya permukiman etnis agar kawasan tersebut tidak hanya nyaman dan layak huni, namun juga memiliki hubungan yang humanis dengan masyarakat kota. Kata kunci: konservasi, kawasan cagar budaya, livability, lovability, permukiman etnis