2020 : Identifikasi Sumber Gempa Bumi di Pulau Jawa Berbasiskan Interdisiplin Ilmu Kebumian untuk Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia

Ira Mutiara Anjasmara ST, M.Phil, Ph.D

Year

2020

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Sebagai negara yang rentan terhadap bencana gempa bumi, diperlukan pemahamam yang komprehensif terkait dengan sumber, potensi bahaya dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Dokumen nasional yang dikeluarkan dan disahkan di tahun 2017 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tentang Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia menunjukkan bahwa kota-kota besar di Pulau Jawa dilintasi oleh beberapa sumber gempa bumi. Seperti misalnya sesar Kendeng, yang menerus dari Jawa bagian Timur ke barat hingga Baribis. Selain itu, sesar Opak di Jawa bagian tengah juga telah menunjukkan eksistensinya melalui kejadian gempa bumi di Jogjakarta tahun 2006. Kemudian pada tahun 2018, terjadi bencana gempa bumi dengan magnitudoi 6.0 yang berdampak ke daerah dengan kepadatan penduduk seperti Sumenep dan Situbondo. BNPB melaporkan bahwa sebagai akibat dari kejadian tersebut, korban meninggal sebanyak sebanyak 4 orang, korban luka sebanyak 36 orang, dan 552 unit rumah dilaporkan rusak. Sumber dari kejadian gempa bumi tersebut diduga dari penerusan sesar Kendeng ke Laut Bali. Sesar kendeng di Jawa bagian Timur, merupakan sesar aktif yang melintasi Kota Surabaya dengan estimasi laju geser sebesar 5 mm/th. Apakah betul penyebab gempa bumi di Laut Bali adalah Sesar Kendeng? Atau dari sistem sesar lainnya? Bagaimana dengan potensi kejadian gempa bumi yang dapat berdampak ke Surabaya? Selain itu, bagaimana eksistensi sesar Kendeng di Jawa bagian tengah? Untuk menjawab permasalahan Ilmu Kebumian tentang kejadian gempa bumi, khususnya di wilayah Jawa dan sekitarnya, maka diperlukan usaha interdisiplin keilmuan berupa integrasi dari beberapa disiplin untuk memecahkan persoalan. Penelitian ini akan mengintegrasikan keilmuan geofisika, geodesi dan geomatika yang kepakaran masingmasing personel berasal dari institusi yang berbeda, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, penelitian ini juga akan berkolaborasi dengan institusi pemerintah Indonesia, seperti dari Badan Informasi Geospasial, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diharapkan dengan adanya integrasi keilmuan tersebut, maka permasalahan kejadian bencana gempa bumi di Jawa dan sekitarnya dapat dipahami secara komprehensif untuk kemudian dijadikan dasar usaha pengurangan risiko bencana gempa bumi, salah satunya melalui pembaruan dokumen nasional Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia.