2020 : Sistem Penghasil Garam Industri yang Terintegrasi Photovoltaic dan Berbasis Internet of Things

Dr.Ir. Totok Soehartanto DEA
Afrian Riznaldhy
Herry Sufyan Hadi ST., MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Kebutuhan garam nasional mencapai 4,2 juta ton, terdiri dari garam konsumsi sebesar 1,88 juta ton dan garam industri 2,32 juta ton (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2018). Kebutuhan garam industri terdiri dari industri Chlor Alkali Plant (CAP) dan farmasi sebesar 1,91 juta ton, dan industri non CAP sebesar 215 ribu ton. Kebutuhan garam industri sebagian besar dipenuhi oleh pasokan impor untuk industri CAP dan non CAP sebesar 1,78 juta ton atau mencapai 83,54 persen, dan produksi garam industri di dalam negeri masih belum mampu memenuhi garam industri nasional. Hal ini terkait dengan kadar NaCl untuk garam industri yang tinggi, yaitu NaCl > 97%, sehingga perlu inovasi dari sisi teknologi pada produksi garam di dalam negeri untuk dapat menghasilkan garam berkualitas yang setara dengan garam industri agar tidak tergantung pada pasokan garam impor. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, seperti penggunaan geo membrane pada lahan produksi garam (Abdullah ZA, 2018), yaitu membran yang diletakkan pada setiap kotak lahan dan bersentuhan langsung dengan air garam yang dipanaskan. Kekurangan pada metode geo membrane adalah masih bergantung pada kondisi cuaca. Metode yang lain yang biasa digunakan dengan metode pencucian dan evaporasi atau disebut proses rekristalisasi (Sumada, 2016). Proses yang dilakukan meliputi proses pencucian dengan larutan garam mendekati jenuh (300 gram/liter air) yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan bahan pengotor “tidak terlarut� Proses selanjutnya yaitu meliputi proses pelarutan garam dan evaporasi, evaporasi dilakukan secara bertahap dan evaporasi total dan partial. Metode mampu menghasilkan garam industri namun masih kurang efektif karena proses pencucian dan evaporasi membutuhkan waktu yang lama dan tidak cocok untuk digunakan dalam skala industri dan belum bersifat sekuensial. Metode lain yang digunakan adalah hidroekstraksi (Martina A, 2014), yaitu pengotor pada permukaan kristal garam direduksi dengan proses pencucian menggunakan larutan garam jenuh. Bahan baku yang digunakan berupa garam yang masih segar. Selanjutnya reduksi pengotor yang terdapat di dalam kristal dilakukan dengan metode hydromilling, dimana kristal garam dikecilkan ukurannya dan dicuci kembali menggunakan larutan garam jenuh. Kekurangan pada metode ekstraksi adalah perbedaan ukuran partikel garam yang signifikan pada setiap volume, sehingga proses pencucian masih belum maksimal, dan proses pemurnian masih bersifat batch. Metode yang lain yang biasa digunakan adalah metode rekristalisasi (Gemati A, 2009). Metode yang digunakan yaitu dengan cara menambahkan bahan pengikat pengotor yang harganya lebih murah seperti Na2CO3 dan NaOH serta flokulan PAC yang dapat mengendapkan ion pengotor pada garam yaitu ion Ca2+ dan Mg2+ kemudian dilakukan rekristalisasi dengan modifikasi model spray untuk mendapatkan kristal NaCl yang lebih murni dengan lahan yang tidak begitu luas dan rekristalisasi meja kristalisasi penguapan. Penelitian ini bisa menghasilkan garam standar industri, namun prosesnya masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan satu kali produksi. Berdasarkan pada kondisi tersebut, maka pengembangan yang dilakukan adalah sistem pemurnian garam yang mengkombinasikan metode rekristalisasi dengan sistem otomatis. Sistem ini akan terintegrasi pada sistem Internet of Things (IoT), sehingga produsen garam Industri mampu mengetahui jalannya proses produksi dari jarak jauh menggunakan smartphone.perancangan sistem monitoring terintegrasi melalui sistem IoT pada prototipe alat mixing garam industri otomatis. Rencana luaran berupa alat pemurnian garam berbasis IoT (Internet of Things) yang siap untuk diproses lebih lanjut untuk mendapatkan dokumen pendaftaran paten pada saat program ini berakhir, makalah ilmiah yang akan dikirimkan ke jurnal internasional terindeks scopus dengan judul, “Temperature Monitoring System to Mixer of Industry Salt Based Internet of Things� Selain itu juga akan dibuat makalah ilmiah nyang akan dipresentasikan di seminar Internasional dengan Judul,�Design of Mixer of Industry Salt Otomations to Improve Productivity of Salt Farmers�