2020 : Integrasi Desain kawasan Pecinan, Kolonial dan Kampung Arab di Kabupaten Gresik

Ir. Andy Mappa Jaya
Tjahja Tribinuka S.T., M.T.
Nur Endah Nuffida S.T., M.T.
Rabbani Kharismawan S.T, M.T


Abstract

Gresik yang pada masa lalu merupakan pelabuhan penting sekaligus kawasan perdagangan di pantai utara Pulau Jawa telah mengalami persilangan budaya dari pedagang-pedagang asing yang berasal dari Tiongkok, Jazirah Arab, hingga Eropa. Persilangan ini dibuktikan dari sejumlah catatan-catatan pengelana seperti Ma Huan, tidak hanya catatan tertulis, bukti fisik mengenai kekayaan etnis yang tinggal di Gresik masih dapat diamati saat ini melalui bangungan-bangunan dengan kekhasan gaya arsitektural tersendiri. Kawasan pecinan, misalnya, ditandai dengan keberadaan kelenteng dan rumah-rumah beratap “kapal�dan gaya peranakan yang khas. Sementara itu, di kawasan kampung arab, rumah-rumah memiliki pembatas rumah berupa tirai maupun pagar tinggi sebagai pembatas pandangan. Di kawasan kolonial, bangunan-bangunan bergaya indis masih dapat ditemukan dengan halaman yang luas dengan teras-teras lebar dan kolom-kolom doric. Namun demikian, pengelolaan kawasan-kawasan ini belum terintegrasi secara optimal, hal ini ditunjukkan dari banyaknya bangunan-bangunan kosong yang tidak terawat bahkan dihancurkan dan digantikan dengan bangunan baru sehingga berpotensi menghilangkan kekhasan karakter pada masing-masing kawasan. Upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dirasa masih membutuhkan rencana pengelolaan yang lebih terpadu, agar ke tiga kawasan tersebut dapat terintegratif. Penelitian dilakukan untuk menguatkan potensi yang ada pada ketiga kawasan tersebut (beerdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya 2009-2015), agar secara kontinyu ke tiga kawasan ersebut dapat terintegrasi baik secara sosial, budaya dan ekonominya, sehingga menguatkan karakter kawasan tersebut sebagai pemicu destinasi wisata minat khusus di Kabupaten Gresik