2020 : DESAIN DAN PROTOTIPE AWAL DARI ALAT BANTU DENGAR DIGITAL BERBASIS KONDUKSI TULANG (BONE CONDUCTION)

Irwansyah ST, MT

Year

2020

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Latar Belakang. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, alat bantu dengar (hearing aid) saat ini telah berkembang menjadi perangkat canggih yang dilengkapi prosesor sinyal digital dan dapat terhubung ke smartphone. Tidak hanya berfungsi memperkeras suara yang masuk ke telinga, alat bantu dengar digital mampu mendeteksi arah datang suara lawan bicara, menguatkannya dan melemahkan suara-suara atau noise dari arah lainnya. Teknologi ini terbukti menjadi salah satu solusi terbaik untuk meningkatkan pemahaman percakapan dalam keramaian dan banyak sekali orang di seluruh dunia telah mendapatkan manfaat dari menggunakannya. Namun, mahalnya biaya penelitian dan pengembangan menjadi salah satu penyebab tingginya harga sebuah alat bantu dengar digital. Umumnya, harga alat bantu dengar digital berkisar antara $1000-$6000 atau sekitar 15-89 juta rupiah per unit, tergantung pada tingkat teknologi yang digunakan. Harga ini terbilang cukup mahal bagi penduduk Indonesia. Selain itu, alat bantu dengar digital yang tersedia di pasaran memiliki batasan kustomisasi karena alasan hak cipta. Sehingga, tidak mudah untuk menguji algoritma yang dikembangkan para peneliti (terutama dari Indonesia) pada alat bantu dengar komersial. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menghasilkan alat bantu dengar digital yang murah dan memiliki tingkat kustomisasi yang tinggi terutama untuk keperluan penelitian. Fokus penelitian ini adalah pada alat bantu dengar digital berbasis bone conduction dimana suara yang ditangkap oleh mikrofon dikonversi menjadi getaran yang akan merambat melalui tulang ke koklea (cochlea) di telinga bagian dalam (inner ear). Alat bantu dengar tipe ini umumnya digunakan oleh pasien dengan gangguan pendengaran konduktif (conductive hearing loss). Jenis gangguan pendengaran ini terjadi ketika ada halangan atau kerusakan pada telinga bagian luar atau tengah (midlle/outer ears) yang mencegah suara untuk merambat ke telinga bagian dalam. Metode dan Luaran. Untuk mencapai tujuan di atas, vibrator atau bone conduction actuator akan digunakan sebagai speaker dan diletakkan di area tulang belakang telinga (mastoid). Untuk itu, model cetak 3D dari alat bantu dengar akan dibuat dan didesain menyerupai ikat kepala (headband) untuk mengakomodasi ukuran dan bentuk kepala manusia yang berbeda. Desain akhir dari alat bantu dengar berbasis konduksi tulang ini diharapkan memiliki potensi untuk dipatenkan. Supaya alat bantu dengar ini nantinya memiliki tingkat kustomisasi yang tinggi, untuk saat ini, komputer mini (dan/atau open-ource hearing aid platform seperti Tympan), seukuran kartu kredit, akan digunakan sebagai prosesor untuk pemrosesan sinyal digital. Metode seperti sound localization (youtu.be/NN70zxQM6Nc) dan speech enhancement (youtu.be/UwOkG4duJss) yang sedang dikembangkan oleh peneliti dari Lab Vibrasi dan Akustik Teknik Fisika ITS akan diimplementasikan pada alat bantu dengar yang diusulkan ini. Untuk memudahkan dalam mengontrol alat bantu dengar tersebut, aplikasi Android juga akan dikembangkan. Prototipe akhir diharapkan dapat diikutsertakan dalam hardware demo pada IEEE Global Conference on Consumer Electronics yang diselenggarakan setiap tahunnya.