2021 : KONSEP PENATAAN PERMUKIMAN PASCA KUMUH DI KAWASAN PESISIR BERBASIS COMMUNITY RESILIENCE

Dewi Septanti S.Pd, ST, MT, Ph.D

Year

2021

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Berbagai kota besar di dunia dengan permukiman kumuhnya telah melakukan berbagai upaya perbaikan permukiman dengan berbagai program, diantaranya: re-settlements, re-development, slum up-grading, slum clearence dsb. Di Indonesia program penanganan permukiman kumuh dikenal sebagai Kampung Improvement Program Komprehensif, Kampung Unggulan, Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dsb. Penanganan permukiman kumuh tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur namun juga aspek ekonomi, sosial dan budaya. Perbaikan kawasan permukiman pesisir memerlukan usaha yang lebih besar mengingat karakteristik masyarakatnya. Peremajaan kawasan diperlukan agar kualitas lingkungan maupun masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut dapat menjadi lebih baik. Namun dalam praktiknya, terdapat berbagai kendala, seperti: kurangnya komunikasi, sumber daya yang rendah, faktor birokrasi, rendahnya partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan program yang masih tidak konsisten. Sehingga pada beberapa tempat terdapat kegagalan akibat penanganan yang tidak terintegrasi. Akibatnya permukiman yang telah ditangani tersebut kembali menjadi kumuh. Kondisi ini biasa disebut sebagai rebound phenomena. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan resiliensi sebuah kawasan permukiman agar tidak kembali menjadi kumuh dengan cara mengembangkan potensi daerah dan komunitasnya. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksploratif, deskriptif, ex- poste, cross- sectional dan studi evaluasi sinkronis. Jenis penelitian ini adalah eksploratif-deskriptif, karena menggambarkan kondisi eksisting masyarakatnya, kondisi fisik lingkungan kampung, potensi wilayah dan kebiasaan masyarakat setempat. Kesimpulan akan ditarik dengan penalaran deduktif dan dilakukan dengan menggunakan frekuensi, rata-rata, dll. Metode penelitian campuran diterapkan dengan menggabungkan analisis pengumpulan dan interpretasi data kuantitatif dan kualitatif, termasuk menentukan indikator konsep pengembangan kampung dan permukiman yang dilakukan secara kuantitatif, dan kebutuhan pengguna yang kualitatif. Metode ini telah meningkatkan reliabilitas dan validitas dari temuan penelitian, melalui metode triangulasi. Penelitian ini akan dilaksanakan di daerah pesisir Gresik dan Tuban sebagai perbandingan. Dipilihnya kedua kawasan ini disebabkan karena pada kawasan ini pernah dilakukan program perbaikan permukiman kumuh oleh pemerintah. Terdapat beberapa hipotesa dalam penelitian ini, pertama penanganan permukiman kumuh yang dilakukan pemerintah sangat rentan terjadi rebound phenomena dikarenakan kurangnya perhatian pada aspek ekonomi, sosial dan budaya terutama di penanganan kumuh kawasan pesisir yang memiliki karakteristik tersendiri. Kedua, membangun community’s resilience dapat meningkatkan kapasitas masyarakat terhadap perubahan yang terjadi dan mencegah kekumuhan di permukiman pasca kumuh kembali. Penelitian ini diharapkan mampu membuat konsep penataan permukiman yang dapat menjadi contoh menciptakan permukiman pesisir yang bebas kumuh.