2020 : Kajian Minimisasi Risiko Penggunaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Oleh Konsumen Dengan Menggunakan Metode Hazard Analysis Crytical Point (HACCP) dan Extended Producer Responsibility (EPR)

Prof. Dr. Ir. Nieke Karnaningroem Dipl.SE, M.Sc
Ir. Mas Agus Mardyanto M.E., Ph.D

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Permintaan akan Air Minum di Kota Cirebon yang semakin meningkat tidak sebanding dengan kapasitas penyediaan air minum yang oleh PDAM Kota Cirebon. Kota Cirebon merupakan kota yang hanya memiliki satu sumber mata air yaitu berasal dari Gunung Ciremai yang terletak di Desa Cipanis, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Tetapi terjadi penurunan debit air pada sumber mata air yang membuat semakin pentingnya pengawasan dan proses produksi air minum dalam kemasan (AMDK) agar tetap layak dikonsumsi oleh masyarakat sekitar provinsi Jawa Barat yang menjadi sasaran konsumen dari perusahaan AMDK PT. Toyamilindo Mountoya. Untuk menghasilkan mutu AMDK yang berkualitas, maka dapat diterapkan metode HACCP. HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) adalah sistem analisa resiko dengan menetapkan pengendalian dan pengawasan yang tepat untuk menghindari penyimpangan. Metode HACCP dapat diterapkan pada seluruh aspek proses produksi AMDK, dari penyediaan air baku hingga dihasilkan air minum hasil pengolahan..Perusahan Toyamilindo Mountoya mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam proses produksi air minum dalam kemasannya.Maka direncanakan sebuah manajemen kontrol dengan menggunakan HACCP dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja setiap unit Water Treatment Plant, serta menjaga kelengkapan dari Standard Operating Procedure (SOP) untuk memudahkan pekerja dalam melakukan maintenance pabrik, serta meningkatkan wawasan pekerja dengan melalui beberapa pelatihan tentang manajemen operasional pabrik. Selain memperhatikan sistem produksi dan sumber daya manusia di Perusahaan AMDK, perlu juga diperlukan juga pengawasan terhadap kualitas produk yang telah jadi baik dalam produk gelas, botol ataupun galon. Selain itu permasalahan sisa kemasam produk air minum yang menumpuk di TPA maupun dilingkungan sekitar menjadi perhatian karena pihak produsen juga harus bertanggung jawab atas produk kemasan yang diolahnya sendiri. Maka metode Extended Producer Responsibility (EPR) perlu diterapkan setiap pabrik produksi Air Minum dalam Kemasan.