2020 : Penguatan Kapasitas Kelembagaan Lokal Dalam Pengembangan Mitigasi Bencana Di Kabupaten Kediri

Dr. Windiani S.Sos., M.Si.
Lienggar Rahadiantino S.E.,M.Sc

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Indonesia memiliki potensi kerawanan tinggi terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, longsor, gunung meletus. Berdasarkan laporan World Risk Report tahun 2018, Indonesia menduduki urutan ke-36 dengan indeks risiko 10, 36 dari 172 negara paling rawan bencana alam di dunia. Kabupaten Kediri merupakan salah satu wilayah yang masuk peta rawan bencana alam di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Propinsi Jawa Timur tahun 2018, hampir sebagian besar merupakan daerah rawan terjadi bencana alam. Bahkan, 32 dari 38 daerah kabupaten yang ada di Jawa Timur masuk dalam wilayah rawan bencana banjir, longsor, gempa, dan tsunami, ditambah 7 gunung berapi aktif di Jatim yang sewaktu- waktu meningkat aktivitasnya, yaitu Gunung Kelud di Kabupaten Kediri-Blitar-Malang,-Batu, Gunung Arjuno-Welirang di Malang, Gunung Bromo di Probolinggo, Gunung Semeru di Lumajang, Gunung Ijen di Banyuwangi, Gunung Raung di Jember, dan Gunung Lemongan di Lumajang. Hal ini berimplikasi pada besaran anggaran APBN yang terus meningkat untuk penanggulangan bencana alam. Bencana dan pengelolaannya juga telah menjadi isu kontemporer dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam dimensi respon dan perilaku, bencana bersifat multidimensional (Oliver Smith, 2004) dan bercorak lokalistik. Bencana yang sama dapat direspon secara berbeda karena karakteristik lingkungan, sosial, budaya dan perkembangan teknologi yang berbeda. Oleh karena itu dibutuhkan model pengembangan mitigasi yang lebih sesuai dengan karakteristik sosial budaya dan kapasitas lokal. Dalam konteks ini, diperlukan upaya peningkatan kapasitas kelembagaan lokal agar dapat berkontribusi dalam upaya melakukan mitigasi bencana sehingga terbangun budaya siaga dan ramah terhadap bencana (harmony with disaster). Live With Risk menjadi paradigma yang mendesak untuk dikembangkan bagi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan yang tinggal di wilayah rawan bencana. Paradigma ini juga tengah gencar digalakkan negara-negara di dunia untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. Penelitian ini akan mengembangkan model mitigasi bencana berbasis komunitas lokal dan pemberdayaan masyarakat di kawasan rawan bencana di wilayah Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan dipadukan metode kuantitatif melalui in depth interview dan penyebaran kuesioner pada masyarakat dan para pemangku kepentingan yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkab Kediri dan NGO lokal (Komunitas Jangkar Kelud) yang menjadi responden dalam penelitian. Target luaran penelitian ini adalah model penguatan kapasitas kelembagaan (institusi) lokal dalam pengembangan mitigasi dan pemberdayaan amsyarakat di kawasan rawan bencana di kabupaten Kediri. Sekaligus dalam rangka mengembangkan paradigma live with risk dan harmony with disaster. Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal internasional terindeks Scopus minimal Q2 dan seminar internasional di dalam negeri. Melalui publikasi diharapkan dapat bermanfaat dan dapat menarik funding (negara donor) dan masyarakat dunia untuk terlibat dalam upaya mengembangkan masyarakat di kawasan rawan bencana di Kabupaten Kediri dan berbagai daerah lain di Indonesia. Kata Kunci: kapasitas kelembagaan lokal, mitigasi bencana, harmony with disaster ini bertujuan untuk mengeksporasi strategi dan model penguatan kelembagaan lokal dalam penegmbanagn mitigasi bencana di Kabupaten Kediri.