2020 : Pengembangan Prototipe Fermentor Untuk Produksi Bioetanol Dengan Pemanfaatan Onggok Limbah Padat Dari Industri Tepung Tapioka

Dr Afan Hamzah S.T
Prof. Dr. Ir. Soeprijanto M.Sc.
Saidah Altway ST., MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Onggok adalah merupakan hasil samping industry pembuatan pati dari ubi kayu yang berupa padatan mengandung banyak serat terutama mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kandungan karbohidrat onggok yang cukup tinggi sekitar 68% yang berpotensi untuk dijadikan bahan bakar bioetanol. Namun, hingga saat ini onggok hanya dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk kompos, makanan ternak dan kadang kala dibuang ke sungai karena dianggap mempunyai nilai ekonomis yang cukup rendah. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh konsentrasi enzim dan asam dalam proses hidrolisis dalam mengkonversi onggok menjadi gula reduksi dan dilanjutkan dengan proses fermentasi. Juga, proses pemurnian bioetanol menggunakan distilasi fraksinasi dan zeolit. Proses hidrolisis kimia dilakukan dengan konsentrasi onggok 50 gr/l, 75 gr/l, dan 100 gr/l dan konsentrasi HCl 0,5 N, 1 N, 1,5 N dan 2 N untuk menghasilkan gula reduksi. Sedangkan pada hidrolisi enzim konsentrasi enzim yang digunakan adalah 2%, 3%, 4% dan 5%. Proses hidrolisis asam dilakukan pada suhu 100oC selama waktu 1-2 jam. Sedangkan, pada hidrolisis enzim dilakukan 2 tahap, tahap 1: proses liquefaksi dengan enzim α-amilase dilakukan dengan pemanasan pada suhu 100o C selama 2 jam. Sedangkan pada tahap 2: proses sakarifikasi dilakukan dengan enzim glukoamilase dengan pemanasan 65 oC selama 4 jam. Hasil hidrolisis kemudian dilanjutkan proses fermentasi dengan pH diatur sebesar 4.5 selama 3 hari. Untuk meningkatkan kadar bioetanol, kemudian dilakukan proses pemurnian dengan distilasi fraksinasi untuk memperoleh kadar etanol yang lebih tinggi.