2019 : INVESTIGASI PENGARUH EKSPOSUR LINGKUNGAN LAUT TERHADAP DRYING SHRINKAGE DAN CORROSION INDUCED CRACKING PADA BETON DENGAN SUPPLEMENTARY MATERIAL DAN ENGINEERED CEMENTITIOUS CONCRETE

Ir. Faimun M.Sc, Ph.D
Dr. Wahyuniarsih Sutrisno S.t., M.T

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Shrinkage merupakan salah satu permasalahan pada beton yang merujuk pada penyusutan atau perubahan volume beton yang terjadi secara time dependent tanpa adanya pengaruh beban luar. Dari beberapa tipe shrinkage, drying shrinkage merupakan tipe yang paling besar kontribusinya pada perubahan volume terutama pada beton normal. Terjadinya shrinkage pada beton dapat menyebabkan retak (cracking), internal warping, dan defleksi external bahkan sebelum sebuah struktur beton menerima beban dari luar. Hal ini sangat berpengaruh terutama pada ketahanan durabilitas dari sebuah struktur. Adanya shrinkage pada sebuah struktur beton dapat meningkatkan probabilitas terjadinya permasalahan durabilitas seperti korosi pada beton bertulang. Korosi tulangan pada beton bertulang merupakan penyebab utama dari masalah ketahanan struktur yang menyebabkan menurunnya kekuatan struktur Kerusakan yang terjadi akibat adanya korosi ditandai dengan adanya retak, spalling dan perubahan warna pada beton yang mengakibatkan penurunan kekuatan dan umur layan bangunan. Studi mengenai drying shrinkage pada beton telah menajdi perhatian selama beberapa dekade, namun efek dari lingkungan laut terhadap drying shrinkage yang terjadi dari hubungannya denga corrosion induced cracking pada suatu struktur beton belum diteliti secara mendalam. Oleh karena itu pada penelitian ini serangkaian kegiatan eksperimental untuk mengetahui pengaruh dari lingkungan laut terhadap drying shrinkage dan corrosion induced cracking akan dilakukan. Sampel beton yang digunakan pada penelitian kali ini adalah normal, beton dengan supplementary material dan beton ECC. Pengujian drying shringage akan dilakukan pada sampel yang telah terekspose oleh beberapa kondisi lingkungan laut. Simulasi kondisi lingkungan laut akan dilakukan dengan dua konfigurasi berbeda yaitu terendam dan basah-kering. Hal ini dilakukan untuk mensimulasikan struktur yang berada pada dua kondisi berbeda yaitu terendam sempurna (Fully Submerged Zone) dan di daerah percikan (Splash Zone). Sedangkan pengujian corrosion induced cracking, akan dilakukan dengan menggunakan teknik galvanostatic (percepatan korosi). Teknik ini telah terbukti cukup efektif untuk menginisiasi korosi dalam waktu yang cukup singkat. Hasil dari pengujian corrosion induced cacking ini nantinya juga dapat digunakan untuk mempediksi keretakan yang terjadi pada sebuah struktur ketika berada pada lingkungan laut.