2020 : Audiovisual Sintesis Ucapan Bahasa Indonesia (VIBIO) sebagai Alat Bantu Pembelajaran Interaktif Bagi Komunitas Anak Berkebutuhan Khusus Terlambat Bicara (Delayed Speech)

Ir. Wiratno Argo Asmoro M.Sc
Dr. Dhany Arifianto ST.,M.Eng.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

World Health Organization (WHO) pada Hari Pendengaran Dunia (World Hearing Day) menyatakan bahwa pada tahun 2019 terdapat 466 juta penduduk dunia yang mengalami gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran berada pada lebih dari 5% populasi dunia dan 34 juta diantaranya adalah anak-anak (WHO, 2019). Bila tidak dilakukan tindakan pencegahan dan penatalaksanaan masalah tersebut, maka pada tahun 2030 diperkirakan akan terdapat 630 juta penderita gangguan dengar dan menjadi 900 juta penduduk dunia pada tahun 2050. Di Indonesia, pada tahun 1994-1996, survei nasional menunjukkan, morbiditas penyakit telinga 40,5 juta jiwa (18.5%), prevalensi gangguan pendengaran 35,28 juta jiwa (16.8%) dan ketulian mencapai 840000 jiwa (0.4). Gangguan pendengaran ini biasanya mempengaruhi perkembangan kemampuan berbicara pada anak sehingga menjadi terlambat. (Zengin-AkkuÅŸ et al., 2018). Gangguan pendengaran anak ini akan diikuti dengan gangguan berbicara akibat tidak menerima rangsang (stimulus) suara yang dapat ditiru oleh balita tersebut. Tenaga speech therapist untuk membantu terapi pasien terlambat bicara (delay speech) hanya dimiliki oleh kota-kota besar. Saat ini untuk Indonesia bagian timur baru dimiliki oleh RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Berdasarkan keputusan direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Nomor: 188.4 / 9621 / 301 / 2011, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya merupakan Rumah Sakit Kelas A, yang berarti merupakan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit rujukan tertinggi untuk wilayah Indonesia Bagian Timur. Sehingga RSUD Dr. Soetomo dipandang perlu untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan tuntutan pelayanan kesehatan kepada masyarakat (Suyoso, dkk., 2012). Melalui Program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat membantu untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien. Selain itu, program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menghasilkan alat bantu audiovisual (visual dan auditory stimuli) untuk pembelajaran pengucapan komunitas anak berkebutuhan khusus terlambat bicara (delayed speech) dalam bentuk perangkat lunak. Dampak lain adalah alternatif perangkat keras secara portabel dan murah bagi rumah sakit atau tempat terapi pasien anak terlambat bicara yang belum memiliki tenaga speech therapist. Secara prinsip penelitian yang diusulkan adalah meniru bagaimana manusia normal dapat mereproduksi bunyi ujaran dan kemudian merangkai bunyi ujaran tersebut sehingga memiliki makna. Dengan teknik Hidden Markov Model (HMM) dipakai untuk pemodelan fitur akustik untuk menghasilkan bunyi ujaran sekaligus memodelkan perangkaian fitur akustik tersebut hingga menjadi bunyi ujaran yang memiliki makna utuh sebagai kalimat. Pola penelitian ini adalah joint-supervision dimana PI dan co-PI membimbing satu mahasiswa Teknik Fisika ITS dan satu mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) THT-KL. Perekrutan naracoba anak yang berkebutuhan khusus serta speech therapists dilakukan di ruang pemeriksaan poli Audiologi, THT-KL, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Kolaborasi dalam penelitian ini diperlukan sebagai kontinuitas ketersediaan naracoba berkebutuhan khusus yang sesuai dengan kriteria klinik. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat Teknologi Tepat Guna (TTG) ini akan digunakan untuk mengevaluasi perangkat lunak dan keras sebagai media pembelajaran interaktif komunitas anak berkebutuhan khusus terlambat bicara di Indonesia. Hasil penelitian ini akan diseminasikan melalui makalah seminar dan jurnal internasional serta akan dipatenkan.