2019 : SISTEM IDENTIFIKASI OBJEK DI PERAIRAN KERUH (TAMBAK) BERBASIS UNDERWATER IMAGE PROCESSING

Dr. Ir. Bambang Sampurno MT.
Dr.rer.nat. Ir. Aulia Muhammad Taufiq Nasution M.Sc.
Agus Muhamad Hatta ST, MSi, PhD


Abstract

Udang Vanamei merupakan udang hasil introduksi dimana usaha budidaya yang menerapkan teknologi intensif hampir seluruhnya membudidayakan udang jenis ini. Hal ini disebabkan oleh produktivitas tinggi, responsif terhadap pakan, lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki pangsa pasar yang cukup luas. Beberapa parameter utama dalam proses budidaya udang Vaname, yaitu lahan budidaya, kualitas air, kuantitas air, kontinuitas air, dan jumlah pakan. Pada beberapa parameter tersebut, faktor jumlah pakan merupakan aspek penting dalam budidaya udang, karena dapat menentukan umur hidup udang di dalam tambak. Peternak udang akan mengalami kerugian secara ekonomi, karena biaya pakan ternak memiliki porsi sebesar 60-70% dari total biaya budidaya udang jika penentuan pemberian pakan tidak sesuai. Penentuan pemberian pakan udang secara umum adalah 5% dari total bobot biomasa udang. Untuk menentukan jumlah pemberian pakan yang tepat maka perlu dilakukan perhitungan jumlah udang di tambak secara periodik untuk selanjutnya dikalikan dengan bobot udang dan ditentukan jumlah pakannya. Pendekatan yang bias dilakukan untuk menghitung jumlah udang adalah dengan pendekatan citra bawah air berbasis underwater image processing. Underwater optical imaging (OPI) adalah bidang yang menantang dalam penelitian image processing. Pertama, karena mediumnya, hamburan selalu menyebabkan efek kabur dalam fotografi bawah air; ini jarang terjadi dalam fotografi darat. Kedua, penyerapan panjang gelombang biasanya menyebabkan pengurangan warna pada citra yang diambil, yang jarang terjadi di udara. Ketiga, sedimen di dalam air juga mempengaruhi pencitraan dimensi tinggi. Masalah lain terjadi karena pencahayaan buatan banyak digunakan untuk fotografi bawah air, dan pencahayaan yang tidak seragam ini menyebabkan vignetting pada citra yang diambil. Akibatnya, citra bawah air memiliki karakteristik khusus yang perlu diperhitungkan selama pengumpulan dan pemrosesan. Masalah umum dengan citra bawah air, seperti redaman cahaya, hamburan, pencahayaan tidak seragam, bayangan, naungan warna, partikel tersuspensi, atau kelimpahan kehidupan laut, dapat diatasi melalui pemrosesan citra optik bawah air Karya terkemuka pada evaluasi detektor untuk pencitraan bawah air (underwater image processing) terus berkembang dengan berbagai pendekatan serta teknik kontemporer. Terdapat beberapa peneliti yang menyelidiki "non-invariant to scale detector", berkonsentrasi dan mempromosikan detektor sudut Harris klasik, yang menjadikannya detektor skala tunggal paling populer baik di darat maupun di bawah air. Metode lain seperti Hessian dan Laplacian ditinggalkan sampai pengenalan skala dan metode affine invarian. Baru-baru ini, sebagian besar teknik deteksi populer didasarkan pada kombinasi Harris, Hessian dan Laplacian. Saat ini, Difference-of-Gaussian (DoG) dan affine invarian Harris dinyatakan secara umum lebih baik, karenanya menjadi teknik yang paling banyak digunakan. Ini sesuai dengan kecenderungan yang terlihat dalam aplikasi bawah laut saat ini, di mana detektor yang paling populer adalah berbagai versi Harris dan DoG. Penelitian sistem identifikasi objek di perairan keruh (tambak) berbasis underwater image processing perlu dilakukan untuk menjawab permasalah yang muncul. Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis pengaruh perubahan turbidity terhadap kualitas citra yang didapatkan. Kemudian citra tersebut diberi perlakuan dalam underwater image processing berupa teknik polarisasi, de-scattering, image restoration, dan image enhancement. Citra hasil underwater image processing tersebut selanjutnya diidentifikasi sebagai objek yang dicari serta dibedakan dengan lainnya. Selanjutnya penelitian ini dapat dijadikan dasar penelitian penghitungan jumlah komoditas udang atau ikan yang sangat membantu peternak dalam mengelola usahanya.