2019 : Analisis Variasi Bahan Baku Minyak Nabati Terhadap Pembuatan Antifoam Agent Menggunakan Pemanas Microwave

Ir. Agus Surono MT.
Prof. Dr.Ir. Suprapto DEA.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Jumlah industri di Jawa Timur kini semakin mengalami kenaikan. Seringkali pada sebuah industri yang dalam operasi prosesnya menggunakan fase liquid, terbentuknya foam atau buih sangat tidak dikehendaki yang dapat menurunkan efisiensi proses, bertambahnya kapasitas pompa pada tangki penyimpanan, pengukuran ketinggian cairan yang tidak akurat, dan menyebabkan pencemaran baik untuk proses maupun lingkungan. Solusi dari permasalahan ini adalah dengan menambahkan antifoam. Sayangnya antifoam yang ada dipasaran terbilang cukup mahal karena merupakan produk impor dari luar negeri dan terbuat dari bahan kimia yang tidak aman bagi lingkungan. Sehingga dibutuhkan antifoam yang bersifat biodegradable. Salah satunya adalah antifoam dari minyak nabati. Beberapa minyak nabati yang belum banyak dimanfaatkan adalah minyak jelantah, minyak nyamplung, dan minyak jarak. Minyak jelantah merupakan sisa pemakaian Crude Palm Oil (CPO) yang digunakan untuk memasak. Dalam proses memasak, ketika dilakukan pemanasan pada suhu tinggi, komposisi minyak berubah seiring dengan sifat organoleptiknya. Minyak jelantah tidak boleh digunakan secara berulang karena mengandung radikal bebas yang bisa menyebabkan kanker. Minyak nyamplung dan minyak jarak pagar bersifat non pangan (non-edible oil), dimana kandungan minyak dalam bijinya cukup tinggi berturut-turut 39-97% dan 34-45%. Berbagai macam metode dan cara telah banyak dilakukan untuk memperoleh antifoam berbahan baku methyl ester dari minyak nabati. Fauzia (2017), menggunakan metode esterifikasi dan transesterifikasi untuk membuat antifoam dari minyak nabati jarak pagar (Jatropha curcas L.). Namun memiliki kekurangan dimana membutuhkan waktu lama yaitu selama 105 menit. Kemudian dilakukan pengembangan penelitian oleh Priyanto (2018), inovasi pembuatan antifoam agent dari minyak bintaro (Carbera manghas L.) dengan metode transesterifikasi menggunakan modifikasi pemanas gelombang mikro. Namun produk antifoam minyak bintaro juga memiliki kelemahan yaitu kecepatan waktu penurunan busa yang rendah, sehingga perlu pengembangan lebih lanjut untuk mendapatkan antifoam yang mampu menurunkan busa dengan waktu yang cepat. Disisi lain, apabila antifoam minyak bintaro diproduksi dalam skala industri makro tentunya kesulitan dalam menyediakan bahan baku karena ketersediaan bintaro yang terbatas. Pada penelitian ini dilakukan proses pencampuran minyak dan metanol dengan penambahan katalis NaOH. Tahap penelitian ini yaitu tahap pencampuran menggunakan pemanas microwave. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya labu leher tiga, microwave, stirrer, thermo couple, antifoam merk dagang “Struktol� NaOH, limbah tetes tebu pabrik gula, metanol, minyak jelantah, minyak nyamplung, minyak jarak, dan alat uji test antifoaam. Kemudian variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variasi bahan baku minyak nabati serta konsentrasi antifoam yang ditambahkan untuk uji penurunan ketinggian foam. Selanjutnya adalah tahap analisa yaitu perhitungan yield, uji tes penurunan ketinggian foam dan membandingkannya dengan antifoam merek dagang “Struktol�serta uji GCMS.