2019 : Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Cabai (Capsinum Frutescens) Varietas Lokal Puncu Kabupaten Kediri Melalui Teknologi Ekstraksi Sebagai Produk Senyawa Antioksidan

Ir. Agus Surono MT.
Dr.Ir. Niniek Fajar Puspita M.Eng.
Eva Oktavia Ningrum S.T., M.S

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting di Indonesia. Meski bukan termasuk bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia, cabai telah membudaya dalam menu sehari-hari. Salah satu jenis cabai yang populer di Indonesia adalah cabai rawit (Capsicum frustescens L.). Tingkat kepedasan cabai dipengaruhi oleh banyaknya kadar capsaicin dan kapsaisinoid lainnya, dimana kadar capsaicin sendiri adalah sebanyak 90% dari total kapsaisinoid yang terdapat dalam cabai. Tiap jenis cabai memiliki kadar capsaicin yang berbeda-beda. Selain sebagai bahan masakan, cabai juga telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu dan obat tradisional. Kandungan capsaicin pada cabai ini berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai antioksidan, dan anti peradangan. Selain itu, senyawa capsaicin juga memiliki efek farmakologi, yaitu sebagai fibrinolytic agent. Menurut hasil penelitian Chen et. al., pada tahun 2013, selain pada bagian placenta dan kulit cabai, senyawa capsaicin juga terkandung di bagian tangkai buah cabai. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peluang untuk memanfaatkan kandungan capsaicin pada limbah cabai yaitu pada bagian tangkai buah, sebagai bahan antioksidan. Pada penelitian ini, senyawa capsaicin yang terkandung dalam seluruh bagian cabai (placenta, kulit, dan tangkai) akan diekstrak menggunakan metode ekstraksi sokhletasi. Hasil ekstrak dari masing-masing bagian cabai tersebut akan dianalisa kandungan capsaicin, total phenolic compound, dan aktivitas antioksidannya.