2019 : Model Teknologi Informasi Usaha Kelompok Wanita Tani Melalui Pendekatan Diversivikasi Konsentris Mengurangi Disparitas Perekonomian Masyarakat Desa

Dr.Drs. Soehardjoepri M.Si.

Year

2019

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Di Indonesia melalui semangat Kartini yang menumbuhkan emansipasi, banyak para wanita yang ikut berperan dalam peningkatan perekonomian tanpa meninggalkan kodrat sebagai seorang ibu. Wanita Indonesia mulai mendapat banyak kesempatan dalam meraih pendidikan bahkan pekerjaan. Pilot project optimasi lahan merupakan domain perempuan sebagai salah satu sektor domestik, kegiatan ini dilaksanakan dengan harapan para perempuan Indonesia memberikan kontribusi yang lebih besar dalam kelangsungan rumah tangga, baik secara fisik, logistik maupun keuangan. Kegiatan optimasi lahan dilaksanakan di 5 propinsi yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Kota Blitar merupakan salah satu kota yang terkenal dengan sektor pertaniannya. Kabupaten Blitar dihubungkan dengan jalan yang relative mudah dijangkau, yang sebagian besar jalan sudah berupa jalan aspal. Keberadaan kelompok wanita tani di Kota Blitar dalam pemanfaatan lahan untuk pertanian seperti buah dan sayur sayuran yang ada patut mendapatkan respon untuk tindak lanjutnya mengingat kegiatan kelompok wanita tani di Blitar sangat berpotensi. Sebagian besar penduduk di desa Pasirharjo kec. Talun Kabupaten Blitar bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani, dikarenakan kondisi lahan dan suhu yang mendukung kabupaten Blitar untuk pertanian Hampir sekitar 2.515 ha merupakan lahan pertanian Pemilik lahan masing-masing kisaran seluas 350m 2 . Penghasilan para wanita tani dan buruh tani tidak pasti bergantung pada musim, hal ini dikarenakan sistem pertanian mereka banyak yang hanya bergantung pada alam. Apalagi musim sekarang tidak bisa diprediksi. Jadi jika suhu alam bagus maka penghasilan yang mereka peroleh dapat dikatakan cukup untuk digunakan membiayai kebutuhan subsistensi mereka. Bisa saja saat musim tidak baik mereka bekerja ke luar kota, mencari penghasilan di luar sektor pertanian, bekerja sebagai tukang bangunan, bahkan ada juga dari mereka yang menggunakan strategi mengikat sabuk lebih kencang.mereka lebih memilih untuk mengurangi intensitas konsumsi mereka normalnya dalam sehari makan 3 kali, akan tetapi mereka makan 2 kali dalam sehari. Begitu banyak strategi yang petani miskin (petani berlahan sempit income perbulan Rp.750.000,-dan buruh tani pendapatan Rp.30.000,- perhari) lakukan meskipun mereka harus lebih bekerja keras. Berdampak terjadi kesenjangan/disparitas di desa. Disisi lain bila hasil pertanian dikelola dengan pengetahuan dan teknologi kemiskinan dan disparitas dapat diminimkan bahkan dihilangkan