2019 : PRODUK PENCAIRAN BATUBARA PADAT MENJADI BATUBARA CAIR SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR MINYAK

Prof. Dr. R.Y. Perry Burhan M.Sc.
Dr. Dra. Yulfi Zetra M.Sc
Zjahra Vianita Nugraheni S.Si, M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Salah satu konsumsi terbesar batubara dalam negeri adalah dalam sektor industri pembangkit listrik (PLN). Kebutuhan batubara untuk sektor tersebut dalam jangka panjang diperkirakan meningkat 5% per tahun dari tahun 2014 hingga tahun 2040. Peningkatan pemanfaatan batubara sebagai sumber energi jangka panjang tentulah sangat didasari atas kelimpahan sumber daya dan cadangan batubara Nasional yang masih sangat besar jumlahnya. Cadangan batubara di Indonesia tersebar cukup luas, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Batubara peringkat sedang hingga tinggi sudah dimanfaatkan selama ini untuk keperluan ekspor dan berbagai kebutuhan sektor industri dalam negeri, sedangkan batubara peringkat rendah (batubara coklat) belum lagi dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu pemerintah dalam Outlook Energi Indonesia 2016-2018, akan mengalokasikan 4,5 juta ton/tahun batubara padat peringkat rendah untuk dikonversi menjadi batubara cair. Program ini direncanakan akan terealisasi pada tahun 2040 (Sugiyono et al., 2018). Oleh sebab itu, dalam rangka menindak lanjuti program pemerintah di Sektor Pembauran Energi ini, tentunya perlu penelitian yang mendalam tentang proses pencairan batubara peringkat rendah di Indonesia dan dilanjutkan dengan identifikasi komponen kimia yang terkandung dalam batubara cair. Proses pencairan batubara melibatkan serangkaian reaksi kimia pada temperatur dan tekanan yang tinggi. Penggunaan temperatur dan tekanan tinggi ini memungkinkan terjadinya proses perengkahan termal dan penataan ulang radikal pada struktur batubara, baik yang ditemukan bebas atau terikat pada makromolekul batubara. Reaksi ini akan membentuk komponen kimia batubara cair yang ukuran molekulnya lebih kecil. Komponen kimia yang terbentuk dari hasil pencairan batubara ternyata berbeda-beda, meskipun berasal dari peringkat batubara yang sejenis. Beberapa penelitian diantaranya telah melaporkan keberadaan kelompok senyawa hidrokarbon alifatik, alkil benzena, alkilfenol dan turunan naftalena dalam batubara cair dari Cina (Wang, 2013). Batubara cair dari Scotlandia mengandung senyawa n-alkana dan poliaromatik (Stihle, 2012). Identifikasi komponen kimia batubara cair ini akan dilakukan menggunakan metode gabungan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM).