2019 : EVALUASI KEAMANAN GEDUNG TINGGI DI SURABAYA TERHADAP PENGARUH SIMULASI GEMPA SESAR KENDENG BERDASARKAN SNI 03-1726 DAN ASCE 07-16

Ir. Dicky Imam Wahyudi M.S.
Afif Navir Refani S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Indonesia merupakan negara yang dikelilingi oleh empat lempeng utama, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Laut Filipina, dan Lempeng Pasifik. Akibat dari proses tektonik yang terjadi, gempa sering terjadi hampir di seluruh Indonesia. Salah satu sumber gempa yang teridentifikasi adalah zona sesar aktif di bagian barat hingga bagian timur Indonesia Dampak dari sesar aktif ini adalah terjadinya gempa lombok pada tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6.4 Magnitude dan pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan kekuatan 7 Magnitude. Hasil analisis yang dilakukan BMKG bahwa gempa Lombok terjadi akibat dari aktivitas sesar dangkal Back-Arc Thrust (BMKG, 2018). Lalu pada tanggal 28 September 2018 terjadi gempa di kota Palu dengan kekuatan 7.4 Magnitude. Hasil analisis yang dilakukan BMKG bahwa gempa Palu terjadi akibat dari aktivitas sesar dangkal Palu-Koro (BMKG, 2018). Kedua bencana tersebut telah merusak bangunan-bangunan infrastruktur sipil yang menyebabkan kerugian baik material maupun non-material. Dari kedua bencana tersebut juga dapat diambil kesimpulan bahwa sesar dangkal perlu diwaspadai karena dampaknya yang begitu besar khususnya pada bangunan-bangunan Infrastruktur sipil. Riset geologi terbaru yang dipublikasikan oleh Geophysical Research Letter (2016) menunjukan bahwa adanya patahan bernama Sesar Kendeng yang melintang sejauh 300 kilometer dari selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur dengan pergerakan 0,05 milimeter per tahun. Sehingga, penduduk Jawa Timur perlu mewaspadai gempa yang akan terjadi akibat sesar Kendeng tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu analisis balik terhadap bangunan-bangunan eksisting khususnya yang ada di kota Surabaya akibat simulasi gempa Sesar Kendeng yang termasuk kategori Gedung tinggi.