2019 : ANALISIS TATA RUANG DAN DAYA DUKUNG KAWASAN UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI PANTAI NAMBO KENDARI, SULAWESI TENGGARA

Ir. Sri Nurhatika M.P
Aunurohim S.Si.,DEA.
Mukhammad Muryono S.Si., M.Si., Ph.D

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Indonesia sebagai wilayah berdaerah iklim tropis yang menutupi 1,3 % dari luas daratan dunia, memiliki 17.508 pulau dengan tidak kurang dari 47 tipe ekosistem alami pada 7 daerah biogeografi. Disamping itu, keanekaragaman makhluk hidup di Indonesia meliputi kurang lebih 10 % jenis organisme yang ada. Keanekaragaman flora dan fauna dengan ekosistem yang sangat beragam, tentunya dapat dimanfaatkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam. Wisata alam dapat dilakukan di kawasan konservasi di Indonesia seperti taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya atau taman buru Ekowisata yang didefenisikan sebagai suatu perjalanan dan kunjungan yang bertanggung jawab dari segi lingkungan ke alam yang relatif tidak terganggu, dalam rangka menikmati dan menghargai alam (dan budaya setempat-yang berlaku saat ini maupun peninggalan masa lalu), yang mendukung konservasi, dengan dampak negatif pengunjung yang rendah, dan memberikan manfaat bagi penduduk setempat melalui keterlibatan aktif mereka secara sosial ekonomi.Jadi dalam ekowisata terdapat unsur wisata, kelestarian lingkungan alam dan budaya, dampak negatif pengunjung yang rendah, dan manfaat sosioekonomi bagi penduduk setempat. Pantai Nambo adalah merupakan salah satu dari sekian destinasi wisata yang terdapat di kota Kendari. Pantai Nambo memiliki areal seluas 9 Ha. Pantai Nambo sebagai salah satu destinasi unggulan di Kota Kendari menjadikannya sebagai tempat wisata utama bagi masyarakat Kota Kendari bahkan sampai kabupaten lainnya. Jumlah wisatawan tercatat lebih banyak dibandingkan pantai Mayaria. Namun demikian jumlah wisatawan pada tahun 2011 yang mencapai 31.000 jiwa mengalami penurunan pada tahun 2012 (19.681 jiwa) dan 2013 (12.493 jiwa). Tahun 2014 dan 2015 jumlah wisatawan kembali meningkat menjadi 15.437 dan 19.684 jiwa (Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Ekonomi Kreatif, 2015). Keberadaan pantai Nambo sebagai wisata bahari tentunya banyak menyentuh kehidupan masyarakat sekitar pantai. Pentingnya dukungan dan peran serta masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan pantai akan membantu dalam menciptakan suasana lingkungan yang kondusif bagi terselenggaranya kegiatan wisata, dalam hal ini masyarakat diharapkan menjadi tuan rumah yang baik ataupun turut aktif sebagai pelaku wisata yang menyediakan keperluan wisatawan seperti makan-minum, akomodasi, transportasi dan sebagainya. Hal ini akan menjadi peluang besar yang aplikatif dan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism) dapat membuka jalan lebih lebar bagi kelompok masyarakat untuk ikut menikmati peluang dan hasil pengembangan pariwisata (Damanik J & H. F. Weber, 2006). Pembangunan pariwisata yang berhasil adalah pembangunan pariwisata yang dilakukan secara bersama termasuk “membangun bersama masyarakat� sehingga perkembangan pariwisata dapat memberikan keuntungan ekonomi, sosial maupun budaya kepada masyarakat setempat serta dapat menciptakan multiplayer effect (Demartoto, 2009). Pembangunan pariwisata berbasis masyarakat menuntut koordinasi dan kerja sama serta peran yang berimbang antara berbagai unsur stakeholders termasuk pemerintah, swasta dan masyarakat. Area keterlibatan masyarakat lokal terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan dalam hal mendapatkan manfaat atau keuntungan baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Pemanfaatan sumber daya alam secara langsung berpotensi menjadi sumber gangguan bagi kelestarian ekosistem. Orientasi pemanfaatan Pantai Nambo sebagai kawasan ekowisata merupakan model pembangunan suatu daerah alami yang dirancang sebagai bagian dari pembangunan pariwisata dan sumber daya alam yang di dalamnya dikaitkan erat dengan sektor-sektor sosial, budaya dan ekonomi. Pengembangan Ekowisata di Pantai Nambo diupayakan untuk menarik wisatawan ke daerah-daerah alami dan menggunakan pendapatan yang diperoleh untuk membiayai upaya pelestarian dan ekonomi setempat.