2019 : Penguatan Karakter Adaptif Mahasiswa Dalam Dunia Akademik Melalui Pendekatan Intellectual Humility Sebagai Persiapan Memasuki Dunia Kerja (Career Adaptability)

Eka Dian Savitri S.Hum.,M.A
Aurelius Ratu S.S, M.Hum
Ni Gusti Made Rai S.Psi, M.Psi
Ede Mehta Wardhana S.T., M.T
Mariyanto S.Si., M.T
Lucky Putri Rahayu S.Si., M.Si.
Ervin Nurhayati S.T.,M.T.,Ph.D
Murry Raditya S.T., M.T.
Sefi Novendra Patrialova S.Si., M.T
Maratus Sholihah S.T., M.T
Iftita Rahmatika S.T., M.Eng
Okta Putra Setio Ardianto S.T.,M.T
Ardi Nugroho Yulianto S.T.,M.T
Gita Marina Ahadyanti S.T., M.T
Adhi Iswantoro S.T.,M.T
Fadilla Indrayuni Prastyasari S.T., M.Sc
BANU PRASETYO S.FIL.,M.FIL
Danu Utama S.T.,M.T
Muhammad Luthfi Shahab S.Si.,M.Si


Abstract

Untuk menunjang salah satu misi ITS yaitu menyelenggarakan pendidikan tinggi yang unggul dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas, sehat secara jasmani dan rohani, maka salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah pembinaan karakter. Dalam konteks lulusan yang berkualitas, aspek kematangan pribadi mahasiswa seringkali diandaikan begitu saja. Salah satunya adalah kematangan pribadi yang berkaitan dengan adaptasi kerja. Adaptasi kerja yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana Pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi, menyiapkan bekal lulusan bagi anak didiknya bukan hanya soal aspek kognitif, melainkan juga aspek non-kognitif. Di sisi lain, justu terdapat pengakuan bahwa aspek non-kognitif umumnya menjadi pertimbangan utama dalam penerimaan kerja. Hal ini jelas menjadi tantangan perguruan tinggi dengan model pembelajaran yang dijalaninya. Dewasa ini, perkembangan dunia kerja semakin kompleks. Kompleksitas ini bukan hanya soal spesifikasi bidang kerja yang muncul, tapi juga bagaimana kerja sama tim mempengaruhi efektivitas pekerjaan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Intellectual Humility sebagai sikap dan aspek kepribadian yang berani terbuka atas perspektif yang ada serta mengakui keterbatasan pengetahuan menjadi faktor determinan dalam relasi inter-personal terutama dalam penerimaan dan penyesuaian lingkup kerja. Masalahnya, karakter ini tidak mendapat perhatian serius dalam pola Pendidikan. Atau harus dikatakan bahwa Pendidikan formal ternyata kurang melatih para pelajarnya untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi dalam pekerjaan. Pembimbingan proses transisi dari lingkup Pendidikan ke pekerjaan dalam banyak faktor kerap dianggap sudah berada dalam pengalaman mahasiswa itu sendiri saat mereka berada dunia akademis. Padahal, penekanan berlebihan pada proses akademik di lingkup Pendidikan membawa dampak atas bagaimana mahasiswa memahami dirinya berkaitan dengan aspek-aspek seperti keyakinan dalam bekerja, keyakinan utuk diterima dalam suatu pekerjaan, dan penyesuaian diri dalam pekerjaan. Inilah yang tidak pernah diperhatikan kecuali sebagian kecil porsi diserahkan kepada Lembaga bimbingan karir. Untuk menguatkan kapasitas karakter ini, maka ada tiga hipotesa yang akan digunakan. Pertama, terdapat korelasi antara kemampuan karakter adaptif (career adaptability) dengan motivasi untuk menjadi yang terbaik secara akademis. Asumsi ini dimaksudkan untuk melihat kesinambungannya dengan penelitian kebijakan sebelumnya yakni tentang keyakinan diri dan pelanggaran aturan absensi, semata untuk mendapatkan nilai terbaik secara akademis. Kedua, terdapat hubungan antara emosi/kepribadian dan karakter adaptif dan fleksibilitas ini. Dan ketiga, bahwa karakter adaptif ini hanya bersifat situasional terlepas dari model pembelajaran yang sudah ada. Artinya, tidak ada hubungan antara karakter adaptif dengan diterimanya lulusan dalam suatu pekerjaan. Pengujian hipotesa ini akan dilakukan dengan tiga variabel, yakni keyakinan diri (self-efficacy), intellectual humility, dan kemampuan untuk beradaptasi (career adaptability). Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat mendukung terciptanya lulusan yang berkualitas dengan strategi penguatan kapasitas karakter adaptif mahasiswa baik melalui kebijakan kurikulum maupun kebijakan non-akademik. Kata Kunci: career adaptability; intellectual humility; emosi; mahasiswa; dunia akademis.