2019 : Rehabilitasi Terumbu Karang Rusak Melalui Pembuatan Terumbu Buatan dan Transplantasi Karang pada Perairan Keruh di Desa Labuhan Kecamatan Sepulu – Bangkalan

Dr. Dra. Dian Saptarini M.Sc
Farid Kamal Muzaki S.Si, M.Si

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Sebagai suatu ekosistem yang berada di perairan dangkal dan umumnya merupakan peralihan antara ekosistem daratan dan perairan laut, maka terumbu karang potensial mengalami berbagai dampak negatif dari dinamika-dinamika yang terjadi dari kedua ekosistem tersebut; baik antropogenik maupun alamiah misalnya pembangunan kawasan pesisir dan aktivitas perikanan yang tidak ramah lingkungan, pencemaran laut, global warming, ocean acidification dan sebagainya. Berbagai kasus kerusakan dan penurunan kualitas ekosistem terumbu karang telah banyak dilaporkan dari seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, sehingga dapat dikatakan bahwa terumbu karang merupakan salah satu komponen dari ekosistem pesisir yang mengalami laju degradasi tertinggi. Kerusakan terumbu karang juga terdeteksi di pesisir utara Kabupaten Bangkalan, salah satunya di Desa Labuhan Kecamatan Sepulu; dimana persentase karang hidup eksisting hanya berkisar antara 10-25% atau termasuk dalam kategori ‘rusak’. Untuk itu, upaya rehabilitasi dan restorasi terumbu karang di area tersebut merupakan suatu keniscayaan; salah satunya melalui metode transplantasi karang. Akan tetapi, salah satu kendala utama dalam metode tersebut adalah kondisi perairan yang cukup keruh. Sebagai biota yang bersifat stenotolerant, terumbu karang memiliki kisaran toleransi yang sempit untuk banyak faktor lingkungan termasuk kekeruhan. Pada studi ini akan dicoba untuk melihat kesintasan (survival rate) dan laju pertumbuhan fragmen karang yang ditransplantasikan pada terumbu buatan model kubah beton berongga dan rak beton secara in situ di perairan Desa Labuhan Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. Lebih lanjut, akan diakses pula keberhasilan regenerasi terumbu karang yang ditunjukkan melalui tingkat rekrutmen larva karang pada terumbu buatan tersebut; juga pada terumbu buatan model Bioreeftek yang baru-baru ini dikembangkan. Fragmen karang yang ditanam pada terumbu buatan akan dipantau pertumbuhannya selama 4 bulan pasca transplantasi. Spesies karang yang diuji adalah Acropora millepora yang secara alamiah umum terdapat di perairan dangkal dan memiliki laju pertumbuhan cukup cepat. Selain itu, akan digunakan pula beberapa spesies karang lain baik yang berasal dari sekitar lokasi studi maupun dari perairan disekitarnya. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi baru mengenai model atau metode rehabilitasi karang yang sekiranya sesuai untuk diterapkan pada area terumbu karang rusak pada perairan yang relatif keruh, terutama disekitar pesisir utara Pulau Jawa dan Madura. Kemudian, dalam pelaksanaannya penelitian akan bekerjasama dengan komunitas masyarakat lokal sehingga penelitian diharapkan juga menjadi media pembelajaran secara langsung dalam upaya konservasi dan rehabilitasi terumbu karang.