2020 : Studi Ekasperimen Perforama, Proses Pembakaran dan Emisi NOX dari Motor Diesel Direct Injection Bersilinder Tunggal dengan Angle Globle Valve EGR berbahan bakar Biodiesel Minyak Jelantah

Ir. Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah M.Eng, Ph.D

Year

2020

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Ketersediaan bahan bakar secara umum dan bahan bakar dalam pengoperasian motor diesel secara khusus kini semakin berkurang. Disamping itu, permasalahan lingkungan terkait global warming, salah satunya tentang polusi udara juga sudah mengkhawatirkan. Biodiesel kelapa sawit telah diterapkan di Indonesia mulai dari campuran 7.5% (B7.5) yang dikhususkan untuk public service obligation (PSO), dilanjutkan dengan campuran biodiesel 10% (B10) pada tahun 2013. Selanjutnya, mulai 1 September 2018 pemerintah meberlakukan kebijakan B20 yang diperuntukkan baik untuk PSO maupun non-PSO. Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar yang menyebabkan defisit neraca perdagangan dan ketergantungan energi fosil. Terlebih lagi dari pernyataan Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo menginginkan bahwa pada tahun 2020 sudah beralih ke B30, dan selanjutnya pada akhir tahun beralih lagi ke B50. Keseriusan pemerintah dalam memanfaatkan biodiesel sangat jelas dengan penambahan komposisi secara terukur dengan tahapan-tahapan hingga 50%. Tentunya dengan kontribusi biodiesel yang semakin banyak ini akan membawa dampak yang salah satunya adalah semakin diperlukannya bahan baku. Perluasan lahan kelapa sawit atau lahan-lahan lainnya adalah tidak memungkinkan. Kita tidak mungkin akan mebuka lahan terus menerus bagaimanapun keberadaan hutan masih diperlukan. Berdasarkan alasan tersebut maka perlu memikirkan bahan baku lainnya yang salah satunya adalah minyak jelantah. Penduduk Indonesia adalah salah satu pengkonsumsi minyak goreng terbesar didunia, sayangnya mereka masih belum mengikuti pola hidup sehat dalam pemanfaatan minyak goreng. Andaikata mereka mengikui pola hidup sehat maka minyak goreng bekas akan berlimpah di Indonesia, dan tentu saja sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Pemanfaatan minyak goreng bekas sebagai bahan biodiesel dapat menjadi salah satu jalan keluar krisis bahan bakar. Penambahan teknologi Exhaust Gas Recirculation (EGR) Engle Globe Valve (EGV) juga bisa memberikan jawaban dalam mengatasi polusi udara. Penelitian ini akan membahas pemanfaatan minyak jelantah atau Waste Cooking Oil (WCO) dan penambahan Exhaust Gas Recirculation (EGR). Meode eksperimen adalah meode yang paling tepat untuk mempelajari permasalah penelitian tipe seperti ini. Analisa yang dilakukan meliputi peforma, hasil proses pembakaran serta emisi dalam NOx menggunakan bahan bakar biodiesel. Diperkirakan penggunaan biodiesel WCO dengan penambahan sistem EGR akan menghasilkan peforma lebih baik, bisa jadi biodiesel dengan sistem EGR akan menghasulkan proses pembakaran yang berbeda atau bahkan lebih baik. Penambahan EGR di dedikasikan untuk menurunkan emisi NOX, jadi kombinasi penggunaan minyak jelantah dan modifikasi EGR-EGV adalah inovasi untuk memanfaatkan limbah jelantah yang sudah tidak dapat bermafaat lagi sekaligus mengupayakan penuruan emisi NOX.