2019 : APLIKASI KULTUR CAMPURAN JAMUR Aspergilus sp. DAN BAKTERI PENGHASIL BIOSURFAKTAN PADA BIOREMEDIASI MINYAK BUMI SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN LAUT

Adi Setyo Purnomo S.Si., M.Sc., Ph.D
Hamdan Dwi Rizqi S.Si., M.Si

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesiatahun 2016, antara tahun 1998-2016 tercatat ada 37 kasus tumpahan minyak yang mengakibatkan berton-ton minyak mencemari lingkungan perairan Indonesia. Tumpahan minyak tersebut menjadi ancaman yang cukup serius khususnya bagi ekologi di lingkungan pesisir. Mengingat dampak negatif dari pencemaran minyak bumi, perlu dilakukan suatu metode yang efektif, murah dan ramah lingkungan dimana salah satunya adalah bioremediasi. Salah satu jamur yang dapat digunakan untuk bioremediasi minyak bumi adalah jamur Aspergilus sp. Akan tetapi, hasil degradasinya masih rendah dan masih membutuhkan waktu yang lama, sehingga perlu dilakukan pengembangan metode dimana salah satunya yaitu dengan penambahkan bakteri penghasil biosurfaktan (BPS). Biosurfaktan dari bakteri ini dapat meningkatkan kelarutan minyak sehingga lebih mudah diakses oleh jamur untuk didegradasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, penambahan BPS (Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis dan Ralstonia pickettii) mampu meningkatkan kemampuan degradasi polutan organik oleh jamur. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah menguji dan mengaplikasikan kultur campuran jamur Aspergilus sp. dan BPS pada bioremediasi minyak dalam media air laut sebagai upaya pengendalian pencemaran laut. Penelitian ini diharapkan menghasilkan terobosan teknologi baru dalam penanganan masalah tumpahan minyak dan dapat bermanfaat bagi ITS serta Pemerintah sebagai sumber data ilmiah yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam upaya penanganan masalah tumpahan minyak di perairan laut Indonesia. Target luaran dari penelitian ini adalah publikasi dalam jurnal internasional terindex scopus yaitu di jurnal “World Journal of Microbiology and Biotechnology�(Q2) dengan impact factor 1.532 dan seminar internasional.