2019 : Prediksi Pola Pencemaran Udara di Surabaya Berdasarkan Data Air Quality Monitoring System (AQMS)

Dr Suhartono S.Si., M.Sc
Muhammad Sjahid Akbar S.Si.,M.Si.
Santi Puteri Rahayu S.Si., M.Si., Ph.D
Dedy Dwi Prastyo S.Si., M.Si.


Abstract

Surabaya sebagai kota dengan kepadatan penduduk terbesar ke dua selain Jakarta, tentunya tidak lepas dari berbagai masalah kependudukan. Salah satu masalah penting yang perlu diperhatikan adalah mengenai polusi udara. Jumlah penduduk yang semakin meningkat dan banyaknya wilayah perindustrian tentu menyebabkan permasalahan polusi udara semakin kompleks. Menurut BPS Kota Surabaya, jumlah kendaraan bermotor meningkat 6 % pertahun dan rasio kendaraan bermotor dengan luas wilayah Surabaya 1 : 6.506. Informasi ini menunjukkan kepadatan lalulintas di Kota Surabaya cukup tinggi. Serta polusi udara dihasilkan oleh kendaraan bermotor cukup tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma, 2010 menyatakan kendaraan bemotor berkontribusi 60% penyebab polusi udara. Oleh sebab itu perlu dilakukan monitoring tingkat polusi udara di Surabaya. Polusi udara yang melampaui ambang toleransi akan mempunyai dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya, Penelitian ini akan memberi informasi awal (early waning) tingkat polusi udara di Surabaya dengan melakukan prediksi atau peramalan kandungan polutan (CO dan PM10) serta pola data polutan khususnya CO dan PM10. Sehingga dengan diketahui pola data polutan (CO dan PM10) dan ramalannya dapat digunakan sebagai bahan kebijakan pemerintah. Data polutan diambil dari 3 stasiun monitoring udara yaitu Taman Prestasi, Wonorejo, dan KebonSari. Sistem yang digunakan untuk monitoring kualitas udara adalah Air Quality Monitoring System (AQMS). GSTARMA adalah model peramalan yang mempertimbangkan unsur Spasial. Data polutan yang digunakan memiliki unsur spasial karena melibatkan 3 lokasi stasiun monitoring. GSTARMA adalah pemodelan statistika yang digunakan untuk peramalan data yang mempunyai dependensi dengan waktu dan lokasi Sehingga pemilihan GSTARMA sebagai metode peramalan kandungan polutan (CO dan PM10) sesuai dengan permasalahan.