2019 : KAJIAN PRODUKTIVITAS DAN KETAHANAN PENYAKIT IKAN BUDIDAYA DALAM KERAMBA JARING APUNG OCEAN FARMITS

Dr. Dewi Hidayati S.Si., M.Si
Dr.rer.nat. Edwin Setiawan S.Si., M.Sc
Nova Maulidina Ashuri, S.Si, M.Si


Abstract

Indonesia merupakan negara maritime dengan wilayah didominansi laut (76,94% dari total luasan NKRI atau seluas 6.653.341,439 km2 (Ramdhan dan Arifin, 2013). Kondisi demikian membuka peluang besar pengembangan sektor perikanan di bidang marikultur. Namun demikian, pada tahun 2014 dilaporkan bahwa dari 4,58 juta ha lahan potensi marikutur baru dimanfaatkan kurang dari 2% (http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/39696). Sementara itu, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) disebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara, selain Rusia dan Australia, dengan kedalaman laut paling sesuai untuk marikultur dengan metode kandang dan rawai (cages and longlines)(Kapetsky et al 2013.) Salah satu bidang perikanan yang belum banyak dikembangkan di Indonesia adalah akuakultur lepas pantai. Menurut Cicin-Sain et. al (2005), akuakultur lepas pantai merupakan terobosan baru yang potensial untuk memenuhi pasokan permintaan produk perikanan laut dan sebagai salah satu solusi penanganan maslah di pesisir seperti: persaingan untuk penggunaan perairan pesisir, nilai tanah pesisir yang tinggi serta penurunan produksi akibat kualitas air yang buruk di banyak daerah pesisir karena limpasan langsung dari kegiatan antropogenik di darat. Berdasarkan data FAO dalam situs resminya, http://www.fao.org/docrep/field/003/ac001e/ dilaporkan bahwa perkembangan budidaya dekat pusat penduduk (daerah tambak, rawa) di Jawa terbengkalai dan tutup akibat polusi penggunaan pestisida dalam pengendalian hama padi. Usaha akuakultur yang berkelanjutan perlu dilakukan kuantifikasi masalah dari berbagai perspektif meliputi sosial, ekonomi dan ekologi. Budidaya ikan di Jawa dari 2006-2014 cukup tinggi, sehingga perlu ada fasilitas yang memadai untuk budidaya ikan. Menanggapi tantangan-tantangan ini, Pusat Studi Kelautan ITS telah mengembangkan teknologi Keramba Jaring apung (KJA) bernama Ocean FARMITS yang dirancang khusus untuk perairan selatan Pulau Jawa. Berdasar hasil uji pendahuluan menggunakan pemodelan telah diketahui bahwa struktur yang dibuat Ocean Farmits secara simulai numerik mampu menahan gaya tegangan dari tegangan tambat. Selain itu, hasil uji standar aspek struktur ini dapat dikatakan beroperasi dengan aman di bawah gelombang tidak teratur Indonesia . Sementara itu uji aplikasi Ocean FarmITS di perairan laut belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Ocean FarmITS. Ikan pelagic diperoleh dari perairan sekitar maupun kolam pembibitan. Penelitian akan dilakukan dalam waktu 8 bulan dengan beberapa tahapan.Tahap pertama yaitu persiapan dan pengadaan bbit dan aklimasi ikan pelagic yang akan dipelihara; pengukuran kualitas fisik kimia perairan sekitar KJA Ocean farmITS. Tahap kedua meliputi perawatan; pengukuran survival rate (kesintasan) dan produktivitas ikan budidaya; pemantauan ketersediaan pakan alami dan ketahanan penyakit. Pengukuran kualitas fisik kimia air meliputi suhu; DO; kecerahan; pH; ammonia;nitrat; nitrit dan fosfat yang merupakan parameter diperlukan untuk pemeliharaan ikan. Produktivitas ikan budidaya di KJA Ocean FarmiITS diukur berdasarkan pengamatan komponen pertumbuhan ikan pelagik yaitu Tingkat Pertumbuhan Spesifik/ Specific Growth Rate (SGR), Rata-rata Tingkat Pertumbuhan Harian/ Average Daily Growth Rate (ADGR), Tingkat Ketahanan Hidup/ Survival Rate (SR), Biomassa, Rasio Efisiensi Protein/ Protein Efficiency Ratio (PER), dan Pemanfaatan protein Bersih/ Net Protein Utilization (NPU). Ketersediaan pakan alami diukur berdasarkan analisis isi lambung ikan budidaya dan plankton di dalam area perairan KJA Ocean FarmiITS. Tingkat ketahanan penyakit diukur berdasarkan data prevalensi dan intensitas ektoparasit dan endoparasite dalam tubuh ikan budidaya.