2019 : Model Transportasi Pengiriman Ikan Segar untuk Industri Pengolahan Ikan (Studi Kasus Industri Surimi di Jawa Tengah)

Hasan Iqbal Nur S.T., M.T.


Abstract

Kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan KP No 2 tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets), tak hanya berdampak pada nelayan, namun juga berdampak pada industri surimi, terutama industri surimi yang berada di Jawa Tengah. Lebih dari 80% pabrik surimi tidak beroperasi lagi karena kesulitan mendapatkan bahan baku (ikan demersal). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan model logistik pengangkutan ikan bahan baku surimi yang optimum dari masing-masing opsi lokasi pemasok dengan menggunakan bahan baku ikan alternatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode optimasi. Dari hasil analisis yang telah dilakukan bahan baku alternatif pengganti yang akan digunakan adalah ikan tenggiri, ikan kakap merah, ikan tigawaja dan ikan beloso. Alat angkut yang digunakan adalah kapal pengangkut ikan. Dari proses optimasi, skenario pengiriman melalui titik hub PPS Kendari memiliki biaya satuan yang paling minimum yakni Rp. 2,686 per kg. 5 rute yang terpilih dalam model tersebut antara lain, Rute 1 PPN Sungai Liat–PPP Tasik Agung dengan kargo ikan terkirim 13.389 ton/tahun, Rute 3 PPS Kendari–PPP Tasik Agung (16.750 ton/tahun), Rute 4 PPS Kendari–PPN Pekalongan (16.848 ton/tahun), Rute 5 PPN Ambon–PPS Kendari (21.570 ton/tahun), dan Rute 7 PPI Likupang–PPS Kendari (6.131 ton/tahun). Penambahan biaya transportasi akan menambah biaya produksi sebesar 15%.