2020 : Analisa Kerentanan Wilayah Pesisir Sebagai Akibat Kenaikan Permukaan Laut Menggunakan Data Satelit Altimetri (Studi Kasus: Kawasan Pantai Gresik, Surabaya dan Sidoarjo)

Ir. Yuwono MT.
Dr. Dra. Dian Saptarini M.Sc
Dr. Eko Yuli Handoko ST.,MT.
Mokhamad Nur Cahyadi ST.,M.Sc.,Ph.D


Abstract

Kenaikan muka air laut merupakan salah satu keadaan yang sedang mengemuka saat ini di Indonesia. Pulau Jawa merupakan pulau yang dengan penduduk terbanyak di Indonesia merupakan salah satu pulau yang sangat berpengaruh. Dari sisi utara Pulau Jawa terdapat Laut Jawa. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap tekanan lingkungan, baik yang berasal darat maupun dari laut. Salah satu tekanan yang saat ini sedang mengancam keberlanjutan wilayah pesisir adalah adanya kenaikan muka air laut. Salah satu pemberi faktor kenaikan muka air laut adalah fenomena El-Niño dan La-Niña atau disebut dengan ENSO (El-Niño Southern Oscillation). Pada Tahun 1997 hingga 1998 terjadi fenomena ENSO, dimana Indonesia mengalami musim kering yang panjang dan dilanjutkan dengan mengalami kenaikan curah hujan yang tinggi hingga menyebabkan banjir. Untuk mengamati kenaikan muka air laut dapat dilakukan pengamatan melalui perhitungan sea level anomaly (SLA). Perhitungan anomali permukaan laut akan membantu dalam memberi pemahaman tentang bagaimana variasi permukaan laut serta perubahannya dari waktu ke waktu dalam skala regional dan global. Kawasan pesisir Kabupaten Gresik , Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo merupakan kawasan penelitian yang sangat menarik karena ketiga Kawasan tersebut merupakan bagian dari kota yang mempunyai banyak penduduk dan infrastruktur. Kawasan tersebut juga menjadi Kawasan yang rawan akibat kenaikan permukaan laut yang dapat berakibat atau memberikan dampak sosio-ekonomi pada kota tersebut. Kawasan yang luas sepanjang pesisir laut Kabupaten Gresik hingga Kabupaten Sidoarjo yang melintasi Kota Surabaya merupakankawasan yang luas yang tidak memungkinkan melakukan pengamatan secara konvensional sehingga memanfaatkan teknologi satelit altimetry. Satelit ini berkualitas tinggi menyediakan pengamatan secara langsung mengenai tingkat kenaikan permukaan laut dan varibilitas temporal dan spasialnya. Jenis satelit altimetry yang digunakan adalah Cryosat – 2 yang dirancang menggunakan 3 mode operasional berdasarkan wilayah penampangnya yaitu LRM, SAR, dan SARin. Untuk wilayah Indonesia mode yang digunakan adalah mode SAR dan level 2 yang merupakan data dengan koreksi yang lengkap sehingga cocok digunakan untuk penelitian. Wilayah pesisir merupakan area dimana di dalamnya terdapat berbagai macam ekosistem dengan produktivitas tinggi, antara lain: ekosistem mangrove, terumbu karang, lamun, ekosistem estuaria. Area mangrove adalah salah satu ekosistem yang sangat produktif dan penting, karena mereka menyediakan barang dan jasa ekosistem bagi masyarakat dan sistem pesisir, menstabilkan garis pantai dan mengurangi dampak bencana alam, menyediakan area pemijahan pengasuhan bagi biota laut, makanan, obat-obatan, bahan bakar dan bahan bangunan. Mangrove memiliki adaptasi fisiologis, morfologis dan anatomi yang kompleks yang memungkinkannya hidup dan berkembang di habitat dengan dinamika lingkungan yang besar. Dalam kaitannya dengan zona pertumbuhan mangrove kenaikan muka laut akan menggeser zona pertumbuhan mangrove di tepi pantai ke arah darat. Ekosistem mangrove tepian, yang dominan di lokasi kepulauan kecil seperti Karibia, Afrika Timur dan sebagian Indo-Pasifik termasuk Indonesia sulit mengimbangi skenario rendah atau tinggi kenaikan permukaan air laut. Hasil dari penelitian ini berupa peta kenaikan muka air laut dan indeks korelasi dengan Multivariate Enso Index (MEI) di laut Jawa serta kerentanan/dampaknya pada kerentanan habitat mangrove. Untuk harapan penelitian ini dapat berguna dalam penangan mitigasi bencara kedepannya di Indonesia.