Muhammad Faqih, Muhammad Faqih, Muhammad Faqih, Muhammad Faqih, Irvansyah, Irvansyah, Irvansyah, Irvansyah, Wahyu Setyawan, Wahyu Setyawan, Wahyu Setyawan, Wahyu Setyawan, Arina Hayati, Arina Hayati, Arina Hayati, Arina Hayati : PERUBAHAN ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL MADURA DAN ASPEK BUDAYA YANG MEMPENGARUHINYA (TAHAP 2)

Ir. Muhammad Faqih MS
Ir. Muhammad Faqih MS
Ir. Muhammad Faqih MS
Ir. Muhammad Faqih MS
Irvansyah S.T.,M.T.
Irvansyah S.T.,M.T.
Irvansyah S.T.,M.T.
Irvansyah S.T.,M.T.
Wahyu Setyawan S.T., M.T.
Wahyu Setyawan S.T., M.T.
Wahyu Setyawan S.T., M.T.
Wahyu Setyawan S.T., M.T.
Arina Hayati S.T., M.T.
Arina Hayati S.T., M.T.
Arina Hayati S.T., M.T.
Arina Hayati S.T., M.T.

External link

Type

-

Keywords

arsitektur domestik; arsitektur tradisional; arsitektur vernakular; Madura; perumahan


Abstract

Sebagaimana dijelaskan pada penelitian tahap pertama, penelitian ini merupakan pengujian kembali temuan penelitian yang telah dilakukan pada tahun 1997. Sebuah penelitian dalam bidang hubungan manusia dan arsitektur, yang dalam kasus ini menggali fenomena perubahan arsitektur perumahan tradisional Madura yang dipengaruhi oleh perubahan budaya. Karena keterbatasan waktu maka studi perubahan arsitektur yang seyogyanya dilakukan secara longitudinal tidak diterapkan pada penelitian 1997 tersebut. Alternatif yang dilakukan saat itu adalah menggunakan metoda comparative study merujuk pada metoda Rapoport dan Hardy yang meneliti perubahan arsitektur traditional Tswana Afrika. Metoda ini membandingkan serangkaian perumahan tradisional mulai dari yang paling asli sampai dengan yang paling berubah (Rapoport and Hardie, 1991). Dalam penelitian tahun 1997 tersebut, digunakan perbandingan tiga kasus, yaitu kasus pertama perumahan tradisonal Madura di kawasan terpencil yang mendekati kondisi asli, kasus kedua perumahan pinggiran kota kecil yang mewakili kondisi transisi, dan ketiga kasus perumahan pusat kota, yang sudah sangat berubah. Penelitian tahap pertama yang dilakukan pada tahun 2015, menggunakan metoda longitudinal. Dalam hal ini dipilih kasus kedua yakni perumahan transisi dengan pertimbangan bahwa kondisi transisi lebih cepat mengalami perubahan dibanding dengan kondisi perumahan terpencil. Dengan metoda longitudinal, peneliti mengkaji perubahan mulai dari kondisi tahun 1997 sampai dengan 2015. Dalam waktu hampir dua dekade, diharapkan akan diperoleh perubahan yang signifikan. Temuan penelitian tahun 2015 memperkuat temuan tahun 1997, namun ternyata perubahan dari sisi arsitektur lebih cepat dibanding perubahan dalam aspek budaya tertentu, yang tidak secepat prediksi semula. Hal itu mengindikasikan adanya usaha mempertahankan aspek budaya tertentu, disamping adanya perubahan pada aspek lainnya. Penelitian tahap kedua yang dilakukan pada tahun 2016 ini akan mengambil kasus pertama dari penelitian tahun 1997, yaitu perumahan tradisional di kawasan terpencil. Metoda yang digunakan juga metoda longitudinal dengan mengkaji perubahan mulai kondisi 1997 sampai dengan kondisi tahun 2016. Jika pada kasus perumahan transisi terungkap aspek-aspek budaya tertentu masih dipertahankan sehingga perubahannya lambat maka kemungkinan pada perumahan tradisional di kawasan terpencil akan lebih bayak aspek budaya yang cenderung dipertahankan.