Bangun Muljo Sukojo : ANALISA KONSENTRASI MUATAN PADATAN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT 7 ETM+ DAN LANDSAT 8

Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo DEA.DESS

Year

2014

Published in

Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW), Surabaya, 18 Juni 2014, ISSN 2301 - 6752

External link

Type

Seminar Nasional

Keywords

TSM (Total Suspended Matter) Landsat 7 ETM+ Landsat 8


Abstract

Bencana lumpur Lapindo yang terjadi pada tanggal 28 Mei 2006 menyebabkan kerugian pada berbagai aspek, terutama bagi lingkungan di sekitarnya. Volume semburan yang makin bertambah menyebabkan efek lumpur makin meluas, sehingga muncul Kepres No.13 Tahun 2006 tentang pembuangan lumpur ke laut melalui Sungai Porong. Pembuangan lumpur ke sungai tentunya menambah material yang terlarut didalam air sehingga mempengaruhi perubahan konsentrasi Total Suspended Matter (TSM). TSM adalah material tersuspensi yang mengandung lumpur, butir-butir pasir, dan bahan organik kecil, biasanya disebabkan oleh erosi yang dibawa kedalam air. Penelitian konsentrasi TSM dilakukan untuk mengetahui kadar kualitas air. Perubahan konsentrasi TSM dapat diamati dengan memanfaatkan citra multitemporal. Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8. Pengolahan data dilakukan dengan membandingkan hasil pengolahan nilai TSM pada kedua citra. Dari hasil tersebut dapat diketahui citra yang sesuai untuk pengolahan TSM di wilayah Selat Madura dan perairan sekitarnya menggunakan algoritma Ambarwulan (2002) Budhiman (2004). Nilai TSM yang didapat dari pengolahan citra memiliki nilai korelasi diatas 80 . Hal ini menunjukkan bahwa TSM pada citra berbanding lurus dengan TSM perolehan hasil groundtruth di lapangan.Terjadi penurunan luasan pada sebagian besar kelas untuk nilai TSM dari tahun 2003 dan 2013 yang disebabkan oleh dinamika laut pada saat perekaman data citra. Nilai TSM pada lokasi penelitian ini didominasi oleh TSM yang memiliki nilai 150 mg/l ( 38320,3 ha tahun 2003 dan 38327,3 ha tahun 2013). Pola persebaran TSM pada tiap kelas juga berubah di tahun 2003 dan tahun 2013. Hal ini disebabkan adanya dinamika air laut, khususnya arus air laut yang berperan dalam persebaran material tersuspensi. Nilai TSM yang tinggi dapat berpengaruh pada kelangsungan hidup ekosistem disekitarnya dan menyebabkan sedimentasi yang berujung pada pendangkalan laut.