I Made Londen Batan : Aplikasi Metode Design for Assembly (DFA) Dalam Rangka Perancangan dan Pengembangan Produk Studi Kasus pada Pengembangan Body Mobil Berbahan Komposit

Prof. Dr. Ing. Ir. I Made Londen Batan M.Eng

Year

2014

Published in

Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin SNTTM XIII

External link

-

Type

Seminar Nasional

Keywords

perancangan dan pengembangan produk DFA perakitanefisiensi desain


Abstract

Perubahan material pada saat perancangan akan menyebabkan perubahan pada perancangan proses dan perakitan. Hal tersebut banyak dijumpai pada pengembangan kendaran, baik kendaraan roda 4 maupun roda 2. Penggantian bahan asesoris dari logam menjadi material plastik atau komposit menyebabkan berat kendaran lebih ringan, sehingga dapat menaikkan efisiensi mesin dan menurunkan konsumsi bahan bakar. Contoh perubahan rancangan akibat dari perubahan material banyak dijumpai pada body dan asesories sepeda motor, mobil, sepeda dan konstruksi bangunan. Dampak yang paling nyata dari perubahan diatas adalah adanya perubahan sistem dan proses serta jenis perakitan, yang harus disesuaikan dengan jenis material yang dirakit. Untuk itu dilakukan penelitian aplikasi metode design for assembly (DFA) pada perakitan komponen sebuah produk. Sebagai ilustrasi dari perancangan perakitan ditetapkan perakitan body dan chasis sebuah mobil pick-up. Sebagai langkah awal dihitung efisiensi desain perakitan dari body mobil dari pelat logam (material umum body mobil). Selanjutnya dirancang perakitan body mobil dari material komposit. Pada akhir langkah dilakukan evaluasi terhadap desain yang baru dengan menghitung efisiensi desain perakitan dan membandingkannya dengan efisiensi perakitan komponen logam. Dari kasus pengembangan mobil pick-up sebagai contoh, diketahui efisiensi desain perakitan body dari material komposit meningkat dari 20,52 menjadi 23,09. Kenaikan efisiensi tersebut disebabkan, karena adanya pengurangan jumlah serta jenis komponen yang semula 88 menjadi 68 buah, pengurangan biaya perakitan menurun dari Rp. 4090,88 menjadi Rp. 2518,37 per detik, serta waktu produksi yang awalnya 1286 detik menjadi 883,2 detik.